Menata Hati

Assalammu ‘alaikum wr. Wb

Saya seorang akhwat usia 27 Tahun, dengan usia saat ini saya ingin sekali menikah, saya sudah mencoba berikhtiar, tetapi selalu gagal dengan alasan yang Syar’i, saya mencoba selalu ikhlas dalam menjalaninya dan juga interospeksi diri, mungkin ini ujian yang mungkin dpt diambil hikmahnya, tapi terkadang saya menjadi "hopeless" dan dalam berdo’apun menjadi tidak khusyuk dan alhamdulillah krn ada rizki saya pergi utk beribadah umrohsemoga dengan berdo’a di sana cepat dikabulkan, ttp sampai skrgpun do’a -do’a saya belum dijawab bagaimana caranya menata hati supaya selalu sabar dan bagaimana caranya supaya cepat mendapatkan jodoh, jazakillah…

Wassalammu ‘alaikum

Wa’alaikum salam wr. wb.
Ananda Shilfiah yang diridhoi Allah SWT, supaya cepat mendapatkan jodoh yang baik ada beberapa hal yang perlu dilakukan :
1. Memperbaiki diri.
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang sholih, maka kita harus menjadi orang yang sholihah juga. Itulah maksud Allah dalam firman-Nya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. 24 : 26).
Memperbaiki diri disini pengertiannya ada dua, lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah kita perlu menjadi orang yang bersih, rapi dan menjaga bau badan. Tidak perlu berdandan yang berlebihan (tidak Islami), tapi perlu kelihatan sebagai orang yang menarik. Sebagian orang yang ingin menikah sangat berharap mendapatkan jodoh yang sholih, tapi ia sendiri orang yang salah (tidak sholih). Ini ibarat pungguk merindukan bulan.
2. Tidak putus asa berdoa.
Jangan pernah berputus asa untuk berdoa. Doa yang baik untuk mendapatkan jodoh adalah doa yang terdapat dalam surah Al Furqon ayat 74 : “Ya Rob kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Agar doa lebih terkabul, perhatikan juga adab-adab berdoa dalam Islam. Jadi jangan berdoa menurut versi kita sendiri. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, niscaya doa kita akan lebih terkabul.
3. Ibadah sunnah diperbanyak.
Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita juga perlu mendekati Allah dengan ekstra dekat. Caranya tidak hanya mengandalkan ibadah wajib, tapi juga dengan menambah ibadah-ibadah sunnah (nawafil), seperti sholat tahajjud, sholat dhuha, shaum, tilawah Al Qur’an, infaq, dan lain-lain. Lakukan ibadah sunnah ini secara rutin setiap hari agar iman kita bertambah dan do’a kita semakin dikabulkan Allah SWT.
4. Memiliki kriteria yang tidak muluk.
Mengapa jodoh sulit datang kepada kita? Salah satunya mungkin disebabkan karena kriteria jodoh kita terlalu muluk. Kita ingin jodoh yang mapan, ganteng/cantik, berpangkat, keturunan baik-baik dan beriman. Keinginan semacam itu sah-sah saja, tapi jika hal tersebut dijadikan syarat untuk jodoh kita maka kita telah mempersulit diri sendiri. Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan jika kita tidak dapat memperoleh semuanya, maka pilihlah yang agamanya paling baik. Hal itu berarti mungkin saja jodoh kita orang yang miskin, tidak berpangkat, bukan keturunan orang baik, akan tetapi kita perlu menerimanya asalkan memiliki agama/akhlaq yang baik. Jangan kita menginginkan kesempurnaan dari orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.
5. Memperluas pergaulan.
Cara yang lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah memperluas pergaulan. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan. Seringkali jodoh itu datang bukan dari perkenalan langsung, tapi dari kenalan teman kita. Bahkan dari kenalan dari kenalan teman kita. Itulah gunanya pergaulan yang luas. Ibarat seorang nelayan yang menebarkan jaringan yang luas untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak.
6. Meminta tolong orang lain.
Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah meminta tolong kepada orang lain yang reputasinya baik. Orang tersebut bisa saja guru mengaji, murobbi, teman, orang tua, saudara, dan lain-lain. Jangan malu-malu untuk meminta bantuan kepada mereka dan jangan malu-malu juga untuk mengulangi permintaan kita secara rutin agar orang tersebut ingat bahwa kita meminta bantuan kepadanya.
7. Menyatakan hasrat secara langsung.
Bisa juga seorang wanita mendapatkan jodoh dengan cara menyatakan langsung kepada lelaki yang kita taksir bahwa kita siap menikah dengannya. Ini adalah cara yang masih asing dalam budaya Indonesia. Namun cara ini sebenarnya Islami, karena pernah dilakukan Khadijah ra kepada Nabi Muhammad saw. Khadijah ra yang lebih dahulu menyetkan hasratnya kepada Nabi melalui perantaranya. Menurut saya, cara ini perlu dimasyarakatkan di Indonesia, sehingga tidak ada lagi wanita yang malu-malu kucing, padahal hatinya sudah ingin sekali dilamar oleh lelaki yang diharapkannya.
Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat.
Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

Menata Hati

Rasulullah SAW pernah bersabda, jika kamu ingin memutuskan persaudaraan, pinjamlah uang. Rasulullah SAW wajar mengingatkan akan hal ini lantaran kita biasanya gampang lupa dan mengingkari janji. Yakni janji mengembalikan hutang kepada si empunya. Inilah akar permasalahannya.

Uang memang besar sekali perananya dalam hidup ini. Begitu besarnya nilai uang ini sehingga ada pepatah yang mengatakan: segala sesuatu bisa dibeli dengan uang, termasuk persahabatan dan persaudaraan. Bahkan dalam jalinan kehidupan rumah tangga pun kita mengenal: ‘Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang’.

Kita tidak menolak, uang memegang peran vital. Tanpa uang, hidup kita bisa sengsara. Apalagi pada zaman sekarang ini. Tanpa uang kita tidak bisa memiliki fasilitas hidup. Fasilitas itu dibutuhkan guna meraih cita-cita dan tujuan mulia, misalnya saja amal, belajar hingga beribadah ke Baitullah di Makkah, Saudi Arab, yang tidak mungkin terlaksana tanpa campur tangan uang.

Namun uang bukanlah segalanya. Dalam arti: jangan hanya karena uang kemudian kita jadi terhalang untuk menjamu tamu, membantu teman yang kekurangan, mengasihi anak yatim, hingga membantu saudara lain yang membutuhkan. Jangan hanya karena uang persaudaraan dan persahabatan jadi terhalang. Jika cara kita memperlakukan uang sedemikian, sebenarnya kita sudah diperbudak oleh uang. Contoh konkrit orang yang diperbudak dan dibelenggu hidupnya oleh uang dan harta adalah Qarun di zaman Nabi Musa A.S. Kehidupannya yang glamor dan bermandikan kemewahan berakhir tragis. Uang dan hartanya yang tersimpan dalam gudang di mana unta-untanya tidak sanggup memanggul kunci-kuncinya, ternyata tak mampu menyelamatkan dirinya.

Sebaliknya, justru kita yang seharusnya mengendalikan uang. Kita lah aktor utama yang memerankan penggunaan dan pembelanjaan uang tersebut. Pemanfaatan uang yang tepat dan benar akan memberikan kepuasan kepada pemiliknya. Karena uang, kelak, kita akan dimintai pertanggungjawaban pengeluarannya.

***

Beberapa tahun lalu, jauh sebelum mendengar hadist Rasulullah SAW tentang bahaya pinjam-meminjam uang ini, aku pernah memiliki seorang teman baik. Dia sering datang mengunjungiku. Dia berdarah campuran. Tapi tidak perlu aku ungkapkan di sini. Selain kurang etis, lagi pula bukan itu tujuanku. Persoalan pinjam-meminjam tidak memandang darah dan warna kulit. Tujuanku adalah agar pembaca bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup yang berharga ini.

Temanku tadi, sebut saja Fulan namanya, memang pandai bergaul. Dia amat dikenal oleh rekan-rekan lainnya sebagai orang yang banyak membantu, misalnya dalam hal antar-jemput lantaran dia punya kendaraan. Juga denganku. Itu tidak berarti aku memanfaatkan kendaraannya demi kepentingan pribadiku. Kami sebatas pada teman baik, tidak terlalu dekat. Artinya, dia bisa datang ke tempatku at any time. Kami juga biasa makan bersama. Kami bahkan sharing masalah-masalah pribadi.

Dalam berteman, sudah selayaknya kita tidak perlu menaruh curiga terhadap segala kebaikan. Kecurigaan merupakan awal keretakan hubungan persahabatan dan persaudaraan. Sekalipun kecurigaan tersebut benar adanya. Begitulah ikatan pertemanan antara aku dan Fulan pada bulan-bulan berikutnya. Aku berusaha melenyapkan sedikit keraguan atau kecurigaan yang tersimpan di dada.

Suatu hari, Fulan mengatakan akan membuka sebuah usaha di kota dan menawarkan aku untuk menjadi salah satu karyawan part timer nya. Padahal dia tahu bahwa aku tidak memiliki latar belakang bisnis sama sekali. Sementara untuk memulai sebuah usaha, pengenalan akan kiat bisnis itu memegang peranan utama. Begitu menggebu dia kemukakan rencana tersebut.

Sebenarnya, aku tidak terlalu tergoda dengan tawaran tersebut. Selain tidak memiliki latar belakang bisnis, aku sudah punya pekerjaan tetap. Dia bisa mencari orang lain yang lebih tepat mestinya. Anehnya, dia bersih kukuh memilihku. Katanya, aku orang yang tepat untuk dipilih. Sebuah keputusan yang menurutku ‘ceroboh’.

Sementara, hingga sejauh itu pertemanan kami, aku tidak pernah mengetahui apa sebenarnya pekerjaan tetap si Fulan. Dia selalu memiliki segudang jawaban untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Aku pun tidak mau mengejar. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi rasa hormatku kepadanya. Hingga suatu hari dia kemukakan bahwa dia membutuhkan sejumlah uang dan berjanji untuk mengembalikan dalam jangka waktu satu bulan. Denyut jantungku ‘berdetak’ keras ketika dia kemukakan niat yang satu ini. “Inikah awal keretakan hubungan kami?” Aku berusaha berbisik pada diri sendiri.

Pembaca,
Hal yang paling berat bagi diriku adalah berbohong. Mengatakan tidak punya uang itu berarti tidak jujur karena pada dasarnya aku memilikinya. Akan tetapi untuk meminjamkan uang sebesar Rp 9 juta, bukan angka yang sedikit. Apalagi jika peminjamnya adalah seorang teman. Di tengah-tengah kegundahan antara meminjamkan dan tidak, aku akhirnya berpedoman pada berprasangka baik itu perbuatan mulia. Aku pun pinjami Fulan uang yang buat ukuranku cukup besar sepuluh tahun lalu itu. Dengan catatan dia akan kembalikan sesudah satu bulan.

Rasulullah SAW benar, tidak terhitung orang-orang yang menjadi korban akibat pinjam meminjam uang ini. Persaudaraan, persahabatan, hingga rumah tangga semuanya bisa berantakan. Kadang pecah, tidak jarang harus berakhir di penjara. Malah ada yang nyawa harus jadi taruhannya.

Yang terjadi pada diriku kemudian adalah, seperti pembaca duga: Fulan tidak menepati janjinya. Satu bulan, dua bulan sesudah pinjam, dia tidak pernah lagi nongol. Sebagai manusia biasa, seperti anda, aku mulai dongkol. Setiap kali aku coba hubungi, dia selalu mengelak. Aku pun cepat mengambil kesimpulan, bahwa ini adalah penipuan. Buntutnya, ternyata bukan hanya aku yang jadi korban. Sejumlah rekan-rekan anggota organisasi, telah pula dilalapnya. Astaghfirullah! Sedemikian murahkah nilai persahabatan kami selama ini?

Aku kemudian berusaha menyetop niat buruknya agar tidak merambat. Aku yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan agama yang cukup baik hanya bermaksud agar jumlah korban penipuan ini jangan berdomino. Merambat ke sana-ke mari. Sebagai salah satu pengurus aktif organisasi, aku sebarkan informasi ke teman-teman, agar berhati-hati jika menghadapi Fulan dalam persoalan uang. Fulan pun tidak pernah muncul lagi. Sejak saat itu, kami tidak tahu ke mana rimbanya.

“Allah Mahakaya. Allah Ta’ala bakal mengganti kerugian yang menimpa diriku.” Begitulah keyakinanku waktu itu. Aku percaya, bahwa di balik peristiwa ini pasti ada maksud baik dariNya. Bisa saja karena selama ini aku tergolong orang yang pelit. Atau aku termasuk orang yang sulit beramal. Atau harta yang aku peroleh harus dicuci dengan cara seperti ini. Atau, inilah cobaan, apakah aku termasuk orang yang sabar atau tidak. Aku mencoba belajar ikhlas dengan kenyataan pahit ini.

Subhanallah! Memang benar janji Allah! Beberapa saat kemudian aku diberikanNya pekerjaan yang lebih baik. Aku mendapatkan pekerjaan baru dan kemudian pindah kerja. Aku diberi pula kesempatan untuk memperbaiki wajah rumah orangtua. Malah Allah memberikanku sebuah rumah yang dibeli oleh mendiang Ibuku dengan harga murah sekali. Orang bilang, rumah yang kami beli ibaratnya sebuah pemberian. Belum lagi kesempatanku bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Masih jutaan lagi kenikmatan-kenikmatan duniawi yang tidak bisa aku hitung di sini. Ya Allah! Buah dari keikhlasan lantaran ditipu orang lain ini begitu berkesan dihatiku. Aku bersyukur kepadaNya.

***

Dua pekan lalu, ketika membeli pulsa, aku salah memberikan nomor telepon genggamku kepada sang penjual. Bukannya 534 8865, namun 534 6685. Pulsa yang kubeli seharga sekitar 125 ribu. Ketika aku tanya apakah mungkin dikoreksi atau ditarik kembali duit tersebut, sang penjual bilang tidak mungkin. Seorang teman yang mengantarku membeli pulsa marah kepadaku katanya aku ceroboh, teledor dan selalu begitu. “Nggak usah kuatir. Aku insyallah akan mendapatkannya kembali!” Jawabku ringan terhadap rekanku tadi. Sungguh, tidak seperti biasanya, kealpaan kali ini sangat aku tidak mengerti. Lupa dengan nomor teleponya sendiri? “No way!!” Kata temanku.

Yang aku tempuh kemudian adalah menelepon pemilik nomor HP yang ‘mirip’ dengan punyaku. “Insyaallah akan saya kembalikan duitmu. Akan saya isi HP mu dengan nilai pulsa yang sama!” Jawab pemilik nomor tersebut yang melegakan hatiku.

Hari berikutnya aku tunggu. HP ku belum juga bertambah pulsanya. Hari kedua, hujan deras seharian. Aku tidak berharap orang tersebut akan keluar rumah dan membelikanku pulsa. Kurang sedikit sabar, aku kirim sms kepadanya, sekedar mengingatkan. Karena orang, seperti halnya aku, bisa lupa. Tidak ada respon.

Demikian pula pada hari ketiga. Namun keyakinanku tidak redah, bahwa orang tersebut insyaallah tidak akan mengingkari janjinya. Pengalaman masa lalu mengajarkanku kepositivan akan hal-hal seperti ini. Kalaupun tidak dikembalikan, aku sudah ikhlas.

Benar juga! Tengah malam, tepatnya jam 01.00 dini hari, HP ku berdering. “Hallo..! Assalamu ‘alaikum. Pulsa anda sudah aku isi!” Kata suara di sana. “Jazakallah!” Jawabku lirih di antara tidur dan terjaga.

***

Pembaca,
Mengantisipasi rasa kecewa karena ditipu atau menerima konsekuensi kelalaian kita yang menyebabkan kerugian, bukanlah suatu hal yang gampang. Ikhlas itu berat dan membutuhkan waktu lama mempraktekannya. itu bukan berarti kita tidak bisa melakukannya.

Mari kita kembalikan segala sesuatu kepada Allah dan kita tanamkan diri serta berkeyakinan penuh bahwa hanya DIA lah yang akan memberikan ganti rugi yang jauh lebih baik. Segala yang kita miliki, hakekatnya bukan milik kita. Jadi, tidak ada yang perlu dikuatirkan, apalagi digelisahkan. Kekuatiran dan kegelisahan akan buang tenaga dan pikiran yang sia-sia. DIA lah Yang Mahamemiliki. DIA lah Yang memiliki semua yang kita ‘punya’. Kalau DIA mau, akan diambil semua yang kita punya, atau akan dikembalikan apa yang telah hilang dari genggaman tangan kita. Maka dari itu, segala sesuatu yang hilang, jika tidak kembali sesudah ikhtiar, ikhlaskanlah.

Dua pengalaman pribadi di atas membuktikan selain efektif dalam menanggulangi kegelisahan jiwa, juga merupakan obat mujarab dalam menata hati kita agar menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Walahu a’lam!

[email protected]