free hit counters
 

To Be A Good Listener

Abdul Mutaqin – Rabu, 19 Safar 1432 H / 26 Januari 2011 13:45 WIB

Mengapa kita harus menjadi good listener? Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pendengar dan ingin didengar.

Saya sempat silau dengan istilah core values, good listener dan mencoba mengorek-ngorek substansi keluhuran dari istilah itu. Maklum, karena mungkin belum familiar bagi saya istilah-istilah canggih itu. Tetapi setelah menemukan substansinya, loh, ayah saya sejak bertahun-tahun telah menanamkan nilai-nilai itu dalam kehidupan kami di rumah.

“Dengerin baik-baik bacaan ayah, lalu ikutin”.

“Pasang telinga kamu. Tadi kan sudah ayah kasih contoh. Yang namanya nun sukun ketemu alif itu bacaannya jelas, idzhar namanya. Bukan dengung. Dengung itu ikhfa”.

“Kalu orang tua lagi ngomong, dengerin. Bagaimana kamu dihargai orang nantinya kalau sikap kamu begitu”. Dan banyak lagi.

Ternyata ayah saya yang orang kampung itu sudah paham core values dan good listener. Saya tidak menyangka.

Saya ada beberapa kali mengikuti workshop atau seminar. Ada orang asingnya di situ, bule dan mancung-mancung, baik sebagai pembicara maupun pengamat. Kesimpulan saya, mereka rata-rata adalah good listener dan good speaker. Sementara kita; muslim lagi, kebanyakan adalah good speaker tetapi bad listener. Banyak di antara kita berbicara dengan makhluk di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang di saat ada orang lain tengah menyampaikan haknya berbicara. Sehingga kita menjadi orang setengah hati, memberikan hak orang untuk berbicara tetapi tidak memberikan haknya untuk didengarkan. Ini sama saja memberikan separuh haknya, tetapi kita rampas separuh haknya yang lain. Kasian kan? Tega apa?

Menjadi good listener adalah cara mensyukuri nikmat Tuhan. Mestinya setiap kita yang muslim sampai pada sikap mental demikian. Sebab sering para kyai, ustadz atau guru ngaji menghimbau kita dengan kitab suci agar kita menjadi good listener. Hanya saja mereka tidak membawa-bawa istilah core values dan good listener, tetapi menyadarkan kita semua bahwa Islam juga menaruh perhatian yang sangat tinggi dalam soal ini. Oleh karena itu bagi saya, mari belajar good listener melalui Islam, meskipun tidak mengapa belajar Islam melalui core values dan good listener.

Allah pernah menghimbau setiap muslim untuk menjadi good listener, misalnya:

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(terjemah QS. Al-A’raaf [7] : 204).

Tuh, benar kan? Islam sejak lebih dari empat belas abad yang silam telah menyadarkan setiap manusia untuk menjadi good listener. Aduh saya jadi berpikir, mungkinkah segala macam bencana yang menimpa bangsa ini, menimpa bangunan moral bangsa ini, karena kita telah gagal menjadi good listener di mata Tuhan? Bagaimana kita akan disayang oleh-Nya, jika sekedar menjadi good listener saja kita enggan? Allah ya Rabb, ampuni kami.

Menjadi good listener adalah cara mensyukuri nikmat Tuhan. Mestinya setiap kita yang muslim sampai pada sikap mental demikian. Sebab, Al Qu’ran sempat memberi cap sangat hina bagi siapa saja yang diberi pendengaran tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan baik-baik segala kebesaran Tuhan dengan sebutan hewan ternak bahkan lebih buruk dari hewan ternak itu (QS. Al A’raaf [7] :179). Artinya menjadi good listener adalah mensyukuri nikmat pendengaran dari Yang Maha Mendengar. Lhaa, apa jadinya jika Yang Maha Mendengar tiba-tiba mencabut pendengaran ini? Iiih, ngeri jadinya.

Menjadi good listener bagi seorang muslim adalah "wajib". Sebab jika tidak, ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk mendapat kebajikan. Bayangkan, seorang muslim tidak berhak apa-apa dari pahala Jum’at, hanya karena dia gagal menjadi good listener saat khutbah disampaikan.

AbuHurairahmengabarkan,bahwaRasulullahshallallahu’alaihiwasallambersabda:"JikakamuberkatakepadatemanmupadahariJum’at’diamlah’,padahalImamsedangmemberikankhutbahmakasungguhkamusudahberbuatsia-sia(tidakmendapatpahala)."(HR.NukharidanMuslim).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang kaya dengan core values, sebab beliau sendiri adalah “core values” itu yang tidak pernah mati. Beliau adalah pribadi good listener dan good speaker. Sudah sewajarnya, cinta kepada beliau bukan sebatas menyebut-nyebut namanya dalam berbagai pujian dan qasidah. Tetapi menjadikannya model sebagai good speaker dan good listener dalam diri kita. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad.

“Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati”. (HR. Ad-Dailami)

Bayangkanlah jika ada di antara kita sebagai sales yang sedang antusias menjelaskan sebuah produk, sedangkan audiensnya ngobrol sendiri-sendiri. Bayangkanlah jika ada di antara kita sebagai dosen yang sedang antusias menjelaskan materi kuliah, sedangkan mahasiswanya ngobrol sendiri-sendiri. Bayangkanlah jika ada di antara kita sebagai ustadz yang sedang antusias menjelaskan tentang agama, sedangkan santrinya ngobrol sendiri-sendiri. Bayangkanlah jika ada di antara orang tua yang sedang teriak-teriak memanggil anaknya agar lekas pulang, sementara anaknya tetap asik bercanda dengan temannya dan mengacuhkan kita. Kalau begitu, bukankah menjadi good listener itu memuaskan orang? Membahagiakan speaker? Dan tentunya mengundang kasih sayang Allah yang Maha Mendengar.

Tapi mengapa di antara kita banyak yang tidak menyadari telah menjadi good listener untuk kasak-kusuk? Good listener untuk cela dan aib saudara sendiri? Good listener untuk ghibah, namimah dan gunjingan? Good listener untuk gosip murahan? Tetapi menjadi bad listener waktu Qur’an dibacakan, waktu ta’lim disajikan, waktu rapat dilangsungkan, waktu amanat upacara disampaikan, waktu adzan dikumandangkan, waktu isteri mengeluh, waktu suami meminta, waktu …. waktu … waktu …



Menjadi muslim berarti kerelaan menjadi good listener. Sederhana sekali, jika kita bersedia mendengarkan pembicaraan, tidak menyela pembicaraan, fokus pada pembicaraan dan tidak berbicara saat orang lain berbicara, sesungguhnya kita sudah menjadi good listener. Tentu pembicaraan dalam konteks kebajikan dan bermanfaat.

Let’s to be a good listener!

Ciputat, Januari 2011.

[email protected]

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus