free hit counters
 

Merah Saga, Palestina dan Gempa

Sucipto – Kamis, 19 Syawwal 1430 H / 8 Oktober 2009 08:11 WIB

Apa jadinya jika nasyid yang berjudul “Merah Saga” dirubah ‘arasemennya’ menjadi versi dangdut? Tentu bagi yang sebelumnya pernah menyimak nasyid-nasyid harokah kedengarannya menjadi lucu, sebab jika nasyid ini dibawakan oleh Shoutul Harokah (Shouhar) bisa membangkitkan suasana menjadi semangat, minimal hal ini yang saya rasakan. Apalagi jika kita meresapinya, seolah-olah kita sedang di medan Palestina yang penuh dengan desingan peluru dan dentuman bom, merasakan jeritan anak-anak dan ibu-ibu Palestina akibat teror yang tak berkesudahan dari perusak alam kelas wahid. Israel.

 Ya nasyid Merah Saga ini dinyanyikan oleh dua musisi jalanan Jakarta, usianya sekitar 17-an dalam versi dangdut di dalam bis kota saat saya pulang kerja. Bait-bait yang saya ingat adalah :

  Ketika yahudi-yahudi membantaimu

Merah berkesimbah ditanah airmu

Mewangi harum genangan darahmu

Membebaskan bumi jihad palestina

 Perjuangan telah kau bayar

Dengan jiwa, syahid dalam cinta-NYA

Walau hanya menggunakan alat musik gitar dan gendang mereka membawakan nasyid ini dengan lantang dan penuh semangat. Musisi jalanan ini seolah tidak peduli dengan (kemungkinan) reaksi penumpang. Padahal opini publik masih segar. Polri waktu lalu mewacanakan agar warga mencurigai orang dengan dengan ciri-ciri berjenggot, bersurban, berjubah, celana menggantung, berjilbab besar dan bercadar, serta bersemboyan hidup mulia atau mati syahid. Akibat opini media yang tidak berimbang dan berlebihan, masyarakat awam yang kurang kritis menjadi phobi terhadap istilah jihad dan mati syahid. Seolah jihad dan mati syahid identik dengan teroris. Tapi didepan khalayak dua anak muda ini begitu berani membawakan nasyid-nasyid harokah itu, seolah tak terpengaruh dengan wacana polri, dan alhamdulillah para penumpang banyak yang empati dengan menyisihkan sebagian rezeki. Terimakasih ya mas pengamen yang telah mengingatkan para penumpang dengan bait-bait versimu.

Meski dibawakan dengan musik riang gembira dan kedengarannya lucu, tapi bait-bait itu tetap bikin kulit saya merinding. Pikiran saya melayang. Bait-bait itu mengingatkan saya tentang situasi tanah suci Palestina beberapa pekan terakhir yang kembali memanas saat jama’ah Palestina terluka oleh peluru panas pihak aparat keamanan Zionis Israel yang merangsek ke halaman Masjid Al-Aqsha lewat pintu Magharibah.

Oooh Palestina, kenapa kau terus-menerus teraniaya dan dihinakan? Saudaraku, sampai kapan kau bisa menghadap Allah di masjidmu dengan tenang tanpa harus melawan maut?. Saya jadi malu sendiri yang terkadang tidak bergegas memenuhi panggilan Allah di masjid dekat rumahku. Sampai kapan harkat dan martabatmu merdeka? Dengan mulusnya, Zionis menghajar Palestina di depan rumah saudara-saudaranya sendiri sesama bangsa Arab. Dimana ukhuwah itu? Dimana ummat pilihan itu? Apa yang bisa diperbuat oleh Muslim Indonesia sebagai komunitas muslim terbesar dunia? Hal apa yang sudah diperbuat untuk meninggikan izzah Islam dan muslim? Kerja apa saja yang sudah dilakukan agar Islam kembali menjadi soko guru dunia?

Mungkinkah rentetan kejadian bencana di Indonesia untuk mengingatkan muslim Indonesia sebagai komunitas muslim terbesar dunia? Karena Allah mengkaruniakan pada bangsa ini anugerah yang besar: tanah subur, kekayaan alam berlimpah, gemah lipah lohjinawi. Dakwah dengan mudah masuk ke negeri ini tanpa ada pertumpahan darah.Tapi apa yang bisa dibanggakan dari predikat ini, kita belum bisa berbuat apa-apa. Lihatlah kita tidak berdaya mencegah kemungkaran yang ditampilkan para fir’aun modern yang menginvasi ke negeri-negeri muslim, seolah nyawa seorang muslimin tidak ada harganya. Selain itu, para pengikut kanjeng Nabi ini masih sibuk memakan daging saudara sendiri dengan melempar fitnah dan hujatan hanya karena berbeda mazhab dan organisasi. Budaya korupsi terus menggerogot bangsa ini. Belum lagi virus ’SIPILIS’ yang terus merongrong dan mencuci otak muslim menjadi westernis.

 Seharusnya dengan potensi ini, ummat Islam Indonesia bisa berkontribusi dan memberi manfaat lebih banyak untuk muslim dunia, menjadi penggerak bagi terciptanya peradaban yang memberikan kebaikan bagi seluruh alam.

 Mampukah muslim Indonesia memberi solusi bagi permasalahan ummat. Atau kita hanya mengaku-aku pengikut Kanjeng Nabi, dan bangga dengan kuantitas kita, tapi perilaku kita jauh dari sunnah Nabi dan watak orang beriman. ”Apakah manusia mengira bahwa mereka aka dibiarkan hanya dengan mengatakan ”Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?.” (Al-Ankabut : 2).

 Jika peringatan ini belum juga membuka sense of belonging kita sebagai pengikut terbesar Nabi Muhammad, masih saling menelikung antar saudara seiman, tidak peduli urgensi ukhuwah islamiyah. Sebelum Allah ’mengeluarkan  SP-3’(surat peringatan) kepada bangsa ini seperti ummat-ummat terdahulu. Mari intropeksi diri. Sebagai pengikut ummat Nabi Muhammad terbesar, bangsa Indonesia harus menjadi solusi bagi PR ummat yang bertumpuk, baik skala nasional maupun internasioal. Jangan biarkan Palestina terus menderita sendirian. Muslim Indonesia harus digarda depan dalam mengembalikan jengkal tanah suci Palestina yang dirampas Yahudi. Teriakan merdeka harus berkumandang di langit-langit Palestina. Seperti teriakan kemerdekaan bangsa Indonesia 64 tahun lalu.

 Apa kita mau diganti oleh Allah dengan generasi yang lebih baik, yang Allah mencintainya dan merekapun cinta pada-Nya? Karena kita sibuk dengan diri sendiri. Wallahu a’lam bishowab.***

 Sucipto

Rumah Zakat Indonesia

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus