Sosok Zawahiri Kini Dimata Intelijen AS

Redaksi – Rabu, 1 Syawwal 1434 H / 7 Agustus 2013 12:02 WIB

aymanAyman al-Zawahri, seorang dokter yang kini berusia 62 tahun , telah menjadi pemimpin tertinggi organisasi perlawanan terhadap invasi barat , yang naik ke puncak pimpinan sebuah organisasi apa yang disebut barat sebagai organisasi Al qaeda,  setelah terbunuhnya Usamah bin Laden pada tahun 2011, merilis pernyataan di sebuah video yang diposting di forum jihad pada tanggal 30 Juli tentang  kekejaman perlakuan Amerika terhadap tahanan di Teluk Guantanamo, Kuba, dan ia berjanji bahwa kelompoknya akan berupaya membebaskan rekan rekan mereka dari tahanan.

Beberapa hari kemudian, ia mengkritik kudeta militer atas  Presiden Mesir, Mohamed Mursi, sebagai bagian dari “Perang Salib” sekelompok Kristen dan Sekuler untuk memecah  Mesir dan pada saat yang sama ia mengkritik organisasi  Islam Ikhwanul Muslimin dan Pemerintahan  Mursi kenapa  lebih memilih memerintah Mesir dengan cara  demokrasi, daripada memerintah dengan Syariah Islam.

Baru baru ini komunikasi Ayman Zawahiri – dalam pembicaraan rahasia antara dia dan pemimpin afiliasi Qaeda di Yaman – telah menyebabkan kekhawatiran pemerintah Amerika tentang kemungkinan rencana serangan balasan (dianggap serangan teroris oleh AS) dari kelompoknya . Serentak AS dan pemerintahan barat bergetar  takut dan  mendorong penutupan massal pos-pos kedutaan  di negara negara teluk, khususnya Yaman, sehingga menbuat   analisa bahwa  Zawahiri masih berperan dan mungkin masih  memiliki komando yang kuat dalam  jaringan militan islam.

Pejabat pemerintah Amerika mengatakan dalam pembicaraan yang tersadap itu bahwa Zawahri  mendesak pemimpin AQAP Yaman, Nasir ul-Wuhayshi, untuk melaksanakan serangan teroris besar terhadap kepentingan AS dan Barat , dan bahwa ia telah mengangkat Wuhayshi untuk peran yang lebih penting dalam organisasi Al-Qaeda.

Beberapa analis barat  mengatakan langkah Zawahiri sebagai tindakan putus asa seorang pemimpin yang tidak lagi memegang pengaruh oleh sebab itu ia membuat rencana untuk masa depan dari kelompoknya berharap dapat berkembang.

Mr Zawahri, dipandang oleh analisa teroris sebagai yang tidak memiliki kemampuan manajerial dan pengaruh global sebaik Usamah Bin Laden,  sehingga ia menyerahkan kewenangan yang lebih besar kepada Mr Wuhayshi, yang memimpin Al-Qaeda di Semenanjung Arab, salah satu cabang dari Al Qaeda yang telah menunjukkan kemampuan untuk mengancam kepentingan Amerika.

“Model lama tentang manajerial  organisasi telah berubah,” kata Daniel Benjamin,  direktur Departemen Luar Negeri operasi kontraterorisme pada masa jabatan pertama Presiden Obama. “Tidak masuk akal untuk memiliki semua kepemimpinan Al-Qaeda berkerumun di Pakistan , ketika satu-satunya operator yang memiliki harapan untuk melakukan sesuatu  berada di negara  lain.”

Badan intelijen Amerika merenungkan peran Mr Zawahri itu, Amerika Serikat dan Inggris pada Selasa meningkat tindakan pengamanan di Yaman, dengan Washington mendesak semua warga Amerika untuk meninggalkan negara itu. Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Inggris mengumumkan telah menarik staf diplomatik dari ibukota, Sana, “karena kekhawatiran keamanan meningkat.”

Peringatan Inggris dan Amerika datang beberapa jam setelah para pejabat militer Yaman mengatakan bahwa setidaknya empat orang yang diduga sebagai anggota Al-Qaeda tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di wilayah Marib timur Yaman Selasa pagi. Itu merupakan  serangan Drone AS keempat dalam dua minggu terakhir.

CIA terus intensifkan serangan drone di wilayah Pakistan, di mana agen mata-mata Amerika menganggap disitulah lokasi Zawahri bersembunyi.

Terakhir kali C.I.A. sudah sangat dekat untuk menangkap atau membunuhnya pada akhir tahun 2009, ketika seorang dokter Yordania mengklaim telah menyusup ke tingkat tertinggi Al-Qaeda dan mengatakan ia bisa menginformasikan kepada  Amerika tentang tempat persembunyian yang tepat dimana Zawahri itu.

Tapi dokter itu, Humam Khalil Abu-Mulal al-Bulawi, adalah seorang agen ganda. Pada 30 Desember 2009, ia meledakkan dirinya di sebuah pangkalan CIA di Khost, Afghanistan, serangan yang menewaskan tujuh  agen CIA. (Ny/Dz)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus