Inflitrasi Sigil dan Mantra Dalam Lagu Queen dan The Beatles

Yulia Hafni – Senin, 27 Jumadil Akhir 1432 H / 30 Mei 2011 13:18 WIB

Assalammualaykum Ustadz, kemarin saya membaca note ustadz di Facebook mengenai mewaspadai otak reptil terkait indoktrinasi simbologi yang memang banyak disuapkan melalui media. Jujur, saya kaget ustadz. Beberapa waktu lalu saya sudah tonton habis video dari Youtube oleh user: ‘karkoons’ terkait konspirasi media, satanisme budaya modern, illuminati di Indonesia, Ahmad Dhani, dll, sungguh menjadi sebuah kecemasan tersendiri ketika saya mendapat tambahan fakta mengenai otak reptil dari note ustadz, mengenai otak saat berada pd phasa alpha-tetha, dsb.

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ustadz, semoga ustadz bisa memberi konseling ditilik dari kacamata psikologis dan teologis.

Saya sangat akrab dengan musik dan televisi sejak dalam kandungan. Saya tumbuh dengan musik-musik Queen, The beatles, John Lennon. Ibu saya begitu ingin anak-anaknya mahir berbahasa asing (ini manifestasi dari rasa putusasanya karena beliau tidak kunjung menguasai bahasa Inggris meski sudah belajar sekuat tenaga). Walhasil, jadilah saya akrab dan begitu mencintai semua penyanyi dan lirik lagu yang memang mama putar tiap hari. Ada beberapa situasi rumah tangga yang membuat saya makin larut pada kecintaan saya pada musik, saya sering menyendiri mendengarkan lirik-lirik Elvis, The Beatles, dll.

Dan sungguh, dulu sebelum mulai halqah (pada beberapa kondisi) saya begitu mudah melarikan diri dari masalah. Entah apapun masalah yang terjadi pada orang tua saya, saya begitu membenci sikap mereka, saya tidak suka pada tiap keputusan yang mereka ambil, saya sering berfikir (atau berhalusinasi?) bahwa kabur dari rumah ‘was the best simply problem solver’. Bahkan, seakan-akan ada suara jauh dalam benak saya bahwa ‘suicide was great, and you have to try!’. Namun untuk bisikan bunuh diri ini, bentuknya samar, halus, dan akal saya selalu berhasil untuk tak merespon.

Sebenarnya banyak bisikan-bisikan yang sering saya dengar dalam hati saya ‘you have to do this, you have to throw that’. Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang senantiasa mendorong saya melakukan beberapa hal, meski saya tidak berfikir apapun, tidak menginginkan apapun. Bisikan-biskan itu begitu sistematis rasanya. tiap saya diam, well yeah, ‘mereka’ yang berbisik, tiap saya istirahat dari aktivitas-aktivitas saya, suara-suara ‘jauh’ itu terus bergema di kepala saya. Pernah saat kelas 3 SMP saya siap dengan dua butir ekstasy di tangan saya, siap untuk menelannya. alhamdulillah, tidak jadi.

Saat makin besar (SMA), saya sering dihadapkan pada test-test psikologi, test narkoba, yang beberapa pertanyaannya adalah’apakah anda pernah ingin kabur dari rumah?’,’apakah anda seolah ingin bunuh diri?’dan beberapa pertanyaan lain, yang selalu SAYA JAWAB DENGAN KATA TIDAK, meski sebenarnya saya SESEKALI (dan PERNAH) ingin melakukan hal-hal tersebut.

Seiring saya tumbuh SMP ke SMA, saya tetap menggilai musik. I love Britney, I love ‘N Sync (and Justin Timberlake), Eminem, Westlife, etc., etc., etc. Saya selalu punya (atau merasa punya?) power dan defense lebih untuk menghadapi masalah ketika saya mendengarkan musik. Saya merasa lebih kuat (Oh ya, sebenarnya kultur Islam delam keluarga saya lumayan kuat ustadz, tapi sebatas ritual saja, bukan Islam yang diimani dengan proses thoriqul iman yang benar. Walhasil, saya merasa tidak berdosa meski saat SMP tidak pernah sholat)

Saat mulai kuliah dan mengenal apa itu liqo, halqah, saya mulai rajin tholabul ‘ilmi,hingga saat ini alhamdulillah saya istiqamah tergabung dn menimba ilmu di sbuah hizbun siyasiyun mabda’iyun. Jujur ustadz, meski tidak pernah lagi menginginkan kabur atau bunuh diri (naudzubillah) susah sekali menghilangkan kecintaan saya pada musik, bahkan saat masih di Akademi dan saya memilih untuk berjilbab (gamis) saya pernah sekuat tenaga untuk keluar dari keanggotaan marching band mengingat banyaknya hak syara’ yang dilanggar di sana, saya begitu sedih, ampun-ampunan sedihnya. Saya sadar saat itu, bahwa memang musik itu sudah jadi komponen yang mendaging dengan hidup saya.

Pertanyaan saya:

1. Inikah manifestasi dari sihir sigil dan indoktrinasi kaum satan, mason, dll dalam lirik-lirik lagu yang menemani saya tumbuh dewasa?

2. Sejauh apa sihir ini mampu mempengaruhi seorang mukmin (mengingat ada sebuah statemen bahwa alam bawah sadar kita akan berusaha memecahkan simbol-simbol rahasia saat qta istirahat)?

3. Apa sih ustadz yang bisa saya lakukan untuk menghilangkan spontanisasi lidah saya dalam menceploskan lirik lagu? (saya berusaha keras untuk tidak lagi mengingat-ingat ribuan lagu ‘setan’ yang dulu begitu saya hafal, tapi jujur lidah ini sering keseleo menyenandungkannya saat naik motor, jalan, atau beraktivitas lain)

4. Sifat-sifat ‘aneh’ yang saya temui pada waktu kecil dan remaja saya, kini sudah bisa saya hilangkan, tapi ada beberapa sikap (atau karakter) yang mungkin lebih halus (dan menurut saya sifat-sifat ini NEGATIF) yang saya temui ada pada diri saya, dan saya yakini itu merupakan hasil dr pola pendidikan dn banyaknya hiburan (negatif) yaga masuk pada diri saya sejak saya bayi. Saya TIDAK MENGINGINKAN SIFAT-SIFAT ini ada dalam KEPRIBADIAN SAYA ustadz, tapi sungguh saya harus ekstra keras untuk melenyapkannya, dan saya sering letih menghadapi itu. Sifat seperti mudah menyalahkan diri sendiri, mudah berfikir negatif, dan sangat mudah mendramatisir kedaan. menurut saya untuk yang ini (mendramatisir), sungguh saya parah. Dulu saya sangat suka Justin Timberlake, Westlife dan Britney. Sekali saya TIDAK SENGAJA mendengar lagu mereka, melihat gosip tentang mereka di infotainment, atau melihat cuplikan video mereka, saya akan langsung ingat mereka, dan butuh berhari-hari untuk menghilangkan itu. Saya pernah jadi koreanaholic juga, jadi sekali saja saya duduk manis nonton satu episode ‘My Sassy Girl’ atau sekali saja saya liat video lagu Rain Bi dan Super Junior, saya langsung teringat mereka. Mereka sedang apa, apa film terbaru mereka, kenapa sih film itu tidak ada lanjutannya, dan hal-hal mellow lain yang juga butuh bilangan hari bahkan minggu untuk menghilangkannya. Merasa jadi mudah mellow, sedih, intinya mendramatisir keadaan ustadz.

Saya tidak mau punya sifat-sifat seperti ini. Saya sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna, namun bila sifat negatif ini bukan murni dari saya, tapi ada faktor eksternal, sungguh tidak ridho rasanya jika tetap ada pada diri saya, apalagi berpotensi mengganggu konsentrasi saya pada perjuangan menegakkan kalimatillah. Hal teknis apa yang bisa saya lakukan Ustadz?

Afwan mengganggu dan banyak sekali tanya. Jika ustadz merasa kenberatan menganalisa saya dan memberikan solusi, sungguh tidak apa-apa jika tidak dijawab, afwan jiddan sekali lagi ustadz. Syukran sebelumnya, wa jazakallah bil ahsan.

Wassalammu’alaykumu wr. wb.

Alaykumsalam wr.wb. Subhanallah semoga Saudari Eresia senantiasa diberi kekuatan oleh Allah untuk memperbaiki diri hari demi hari. Tekad besar saudari untuk melepaskan ketergantungan akan musik-musik Barat adalah salah satu kunci untuk menjawab pertanyaan saudari sendiri. Saya turut mendoakan semoga Allah memudahkan ikhtiar yang saudari jalani.

Melihat banyaknya pertanyaan saudari, untuk efektifitas pembahasan, dalam hal ini saya akan kerucutkan pada dua grup Band besar yang banyak didengarkan oleh saudari, yakni Queen dan The Beatles.

Sigil, Logo Queen, dan Bohemian Rhapsody

Salah satu alat yang digunakan Freemasons untuk mentransfer misinya adalah doktrin sigil. Sigil secara sederhana bisa dikatakan sebuah mantra yang diselipkan dalam media visual untuk menyihir objek yang dituju lewat gelombang alam bawah sadar dan tipu muslihat.

Sigil sendiri banyak dipakai melalui media hiburan seperti musik dan film. Sayangnya, salah satu usnur sigil juga terselip di band yang saudari sebutkan (dan favoritkan), yakni Queen.

Jika secara seksama kita lihat, lambang Queen menampilkan lambang Horus (dalam band Queen dipakai Elang) yang besar menghadap ke kanan untuk menampilkan Sang Mata Satu. Horus tersebut juga diapit oleh dua buah singa yang selama ini khas tertera pada logo-logo Kabbalah di berbagai tempat.

Sebenarnya, simbol singa yang dipakai Queen tidak lain berasal dari salah satu simbol suku kaum Bani Israel yaitu suku Judah, yang biasa kita kenal dengan nama suku Yahuda.

Kisah pemakaian lambang Singa bermula saat Nabi Yaakub memuliakan anak keempatnya, yaitu Judah dengan gelaran Gur Aryeh yang bermakna sang Singa Muda. Hal ini bisa kita baca dalam kisah dalam Perjanjian Lama, tepatnya di kitab Kejadian 49:9

“Yehuda bagaikan singa muda; ia membunuh mangsanya, lalu kembali ke sarangnya; ia menggeliat lalu berbaring, dan tak seorang pun berani mengusiknya.”

Dua model perpaduan singa dan elang ini juga menjadi karakteristik sinagog kaum Yahudi. Di Israel sendiri, tidak sedikit Sinagog yang memakai lambing Singa dan Elang secara bersamaan seperti yang terjadi di Sinagog Adath di Israel. Sebuah buku yang ditulis oleh Rabbi Michael dan Gail Zeitle, juga memiliki judul menarik, “Why Israel Is Supernatural – The Eagle, the Lion, & Miracles”. Buku ini menceritakan tentang filosofi dari bangsa Israel dan perjalanan spiritual bangsa itu.

Kembali ke konteks Queen, Freddie Mercury, sang vokalis, adalah seorang penganut Zoroaster. Zoroaster sendiri adalah cikal bakal agama Majusi yang dinyatakan banyak kesesatannya dalam Al Qur’an.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi`iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya, Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Hajj [2]: 17)

Dalam kepercayaan Majusi, mereka memiliki dua Tuhan, yang berupa Tuhan Kebaikan dan Tuhan Keburukan. Sesuai namanya, dua Tuhan ini pun saling bertentangan. Dalam kepercayaan Majusi, Tuhan kebaikan disebut dengan nama Ahura Mazda. Sedangkan Tuhan Keburukan disebut dengan nama Ahriman. Ahura Mazda selalu bertarung dengan Ahriman sebagai penguasa kegelapan. Hingga pada perkembangannya, Ahriman diadopsi orang-orang Ibrani sebagai setan, Iblis, Azazil, atau Lucifer.

Personifikasi Lucifer akan kuat terasa pada lagu Queen yang berjudul Bohemian Rhapsody. Sekalipun ada kata-kata Bismillah dalam lagu itu, akan tetapi pengutipan frase Bismillah dalam Lirik Bohemian sama sekali tidak mewakili Islam. Sebab di satu sisi, Mercury mengumandangkan nama Allah dalam Bismillah, tapi di sisi lain, dia juga mengucapkan nama Iblis, Beelzebub.

“Bismillah! We will not let you go. (Let him go!) Bismillah! We will not let you go…. Beelzebub has a devil put aside for me, for me, for me.”

Freedy Mercury sendiri akhirnya tutup usia dengan kondisi yang tidak berdaya. Ia mengidap AIDS yang selama ini ia tutup-tutupi kepada penggemarnya, termasuk juga orientasi seksualnya yang mencintai sesama jenis. Lantas, sebagai pemeluk Zoroaster yang taat, upacara kematian Mercury pun dilangsungkan secara tertutup dengan menggunakan tata cara Zoroaster.

The Beatles, Jai Guru Deva Om, dan Humanisme

Saya juga sarankan saudari untuk hati-hati mendengar lagu The Beatles. Tak berbeda jauh dengan koleganya Queen yang tampil dengan lagu menyihir ala Bohemian, hiasan mantra juga tidak luput dari band aseli Liverpool ini. Salah satunya tertuang dalam lagu Across The Universe, yang liris tahun 1969.

Lagu ini pada dasarnya lahir dari meditasi John Lennon pada guru-guru spiritual-kalau tidak mau disebut theosofi- pada medio 1968-1969.

Jai guru deva om Nothing’s gonna change my world Nothing’s gonna change my world Nothing’s gonna change my world Nothing’s gonna change my world

Menariknya saat saya browse tentang tanggapan orang-orang terhadap lagu ini, muncul ungkapan dari salah seorang penggemar yang berujar,

*Kayanya jadi tersihir dengerin lagu"nya John dan The Beatles niy, xixixi…*

Saya hanya mau bilang, rupanya saudari tidak sendiri dalam hal ini. Banyak orang yang memiliki perasan serupa saat mendengar lagu-lagu The Beatles.

"Jai guru deva om" (Dalam Bahasa Sansekerta: जय गुरुदेव) adalah sebuah ungkapan Sansekerta yang bemakna sebagai "kemuliaan bagi Sang Pemberi Sinar dalam kegelapan," Secara garis besar juga berarti keaguangan bagi Sang Ilahi. Namun kata Ilahi disini tanda kutip bagi saya. Karena Ilahi yang dimaksud John Lennon adalah Tuhan dalam manifestasi masonik yang tidak mengikat satu aliran pada agama tertentu. Cenderung abstrak dan pastinya penuh dengan dunia mistik.

Pamor tenar The Beatles akhirnya mengantarkan Across the Universe ke layar lebar pada tahun 2007 dan disutradarai oleh Julie Taymor dibawah bendera jaringan Kabbalah Holywood bernama Columbian Druglord Pictures.

Jika pada "Across The Universe" konsep Tuhan yang ditawarkan John Lenon masih abstrak, satu tahun kemudian John Lennon kembali merilis lagu Imagine yang clear menjelaskan apa sebenarnya diinginkan John Lennon.

Dalam lagu Imagine-nya, John Lennon bercita-cita tentang ketiadaan agama sebagai prasyarat hadirnya dunia yang penuh damai, toleran, dan berada pada track menuju satu dunia atau dalam bahasa Freemason akrab kita dengar lewat sebutan New World Order.

Imagine there’s no countries. It isn’t hard to do. Nothing to kill or die for. And no religion too . Imagine all the people. Living life in peace. You may say that I’m a dreamer. But I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will be as one.

Yang artinya: Bayangkan tiada Negara. Tak sukar untuk dilakukan. Tak perlu membunuh atau terbunuh. Dan juga tiada agama. Mungkin kau sebut aku pemimpi. Tetapi aku bukan satu-satunya. Kuharap suatu hari kau bergabung dengan kami. Dan dunia akan menjadi satu

Lagu Imagine sebenarnya lahir dari konsep Kabbalah yang meminta agar tidak ada lagi sekat dalam tiap agama-agama. Menurut John Lennon, agama adalah biang perpecahan. Agama menjadi sarang dari pertikaian global dimana banyak manusia menderita karenanya. Oleh karenanya gagasan yang ditawarkan Lennon adalah humanisme kalau tidak amu disebut atheisme.

(keterangan foto: John Lennon bersama Tokoh Freemasonry)

Namun alih-alih Lennon ingin menciptakan perdamaian dunia, humanisme dan atheisme sendiri menjadi biang kerusakan. Humanisme mengajarkan manusia untuk hidup tanpa Tuhan dan aturan. Inilah pangkal Perang Salib dimana Gereja mengambil peran Tuhan dan memaksa manusia untuk menyembah mereka. Termasuk juga Perang Dunia I dan II ketika manusia digerakkan oleh kekuasaan dan misi politik.

Solusinya?

Sekarang bola ada di tangan saudari sendiri. Apakah memang masih ingin bertahan mendengarkan segenap lagu yang memiliki mantra atau mulai terfikir untuk berhenti mendengarkannya. Sebenarnya sederhana pangkalnya, kebiasaan mengucapkan kalimat dari lirik-lirik lagu tersebut bermula dari intensitas dimana kita sering mendengarkan lagu-lagu itu.

Insya Allah dengan aktivitas tholabul ‘ilmi, dan tergabungnya saudari dengan sebuah hizbun siyasiyun mabda’iyun hal itu semoga menjadi jalan bagi saudari untuk hidup lebih baik lagi. Untuk berubah tentu butuh kerja keras, keseriusan, dan tekad yang kuat. Dan hal itu bisa terjadi dengan mulai melaksanakan keseriusan itu.

Sesungguhnya semuanya berpulang kepada Allah. Oleh karena itu, berdoa lah kepada Allah sebagai karakteristik insan bertauhid yang menyerahkan segala permasalahan dan urusan hanya kepada Allahuta’ala. Allahua’lam.

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah. 6-8)

Di Balik Konspirasi Terbaru

blog comments powered by Disqus