free hit counters
 

Biar Aman atau (Ny)aman?

Redaksi – Rabu, 14 Sya'ban 1438 H / 10 Mei 2017 09:30 WIB

Eramuslim.com – Syahdan, ini cerita dari negeri antah-berantah, yang dalam lakon sejarah selalu saja terjadi, berulang, dalam model yang sama, namun pelakon dan tokoh-tokohnya memiliki nama yang berbeda.

Kisah berawal dari seorang tokoh yang oleh para pengikutnya disamakan dengan malaikat. Tokoh ini memiliki dua peraturan yang oleh pengikutnya diyakini dengan tanpa syarat: Pertama, dia tak pernah salah. Kedua, jika salah, maka lihat peraturan pertama. Maka jadilah dia selalu elu-elukan, apalagi dari tangannya yang ajaib selalu saja bisa mengalir deras berbagai macam barang keperluan, dariĀ uang, sembako, hingga konsesi-konsesi mega-proyek yang nilainya kalkulator pun tak bisa menghitungnya. Jadilah dia tokoh kesayangan bagi mereka yang selalu mengutamakan uang dan uang. Pencitraannya ini didukung penuh oleh tukang gambar dan tukang tulis mapan, dimana kantor tempat mereka bekerja memang milik dari sekutu si tokoh.

Namun sial tak dapat dielakkan. Suatu hari, akibat sikap jumawa, dia berbuat sesuatu yang bikin banyak orang marah. Kelakuannya terang benderang, bagai melihat matahari di siang hari yang cerah, sehingga menyulitkan para punggawa kerajaan yang sebenarnya ingin menolongnya. Berbagai manuver dilakukan oleh para punggawa istana dan semua pengikutnya, juga tukang gambar dan tukang tulisnya, sarat dengan tipuan dan kebohongan. Namun karena kejadiannya jelas bin terang maka mau tak mau dia diputus bersalah dan harus dijebloskan ke dalam penjara.

Banyak yang menduga jika dia akan dikumpulkan bersama para narapidana lainnya, dari yang cuma mencuri sendal tetangga sampai yang mencuri pabrik sendal. Namun rupanya punggawa kerajaan memutar otak dan berhasil menemukan cara untuk tetap dapat menyelamatkannya.

Akhirnya, ketika hari gelap dan banyak orang terlelap, si tokoh ini dilarikan ke suatu tempat di mana tempat itu merupakan benteng yang kokoh bagi orang luar namun istana yang indah dengan berbagai fasilitas kemudahan bagi penghuninya. Yang bisa keluar masuk benteng itu cuma orang-orang tertentu.

Kepada tukang tulis dan tukang gambar, pemindahan itu dinyatakan sebagai upaya untuk mengamankan dari setiap kemungkinan tindakan dari siapa saja yang bisa saja menimpa si tokoh. Namun orang banyak sudah paham, itu dilakukan bukan semata untuk mengamankan, tapi lebih kepada untuk membuat dia (lebih) nyaman. Istilah “Aman” dan “Nyaman” cuma beda “Ny” doang.

Jika sudah diamankan di benteng, si tokoh akan bisa dengan mudah pelesiran ke negeri tetangga lewat jalur khusus dengan pengawalan yang ketat tapi diam-diam. Mudah sekali. Uang bukan masalah bagi si tokoh. Simbiosis mutualisme, kerjasama saling menguntungkan, tetap terjaga dengan baik. Inilah kisahnya. Kisah tanpa judul, namun kerap terjadi. []

Catatan Redaksi Terbaru

blog comments powered by Disqus