Gadis Kecil Itu Akhirnya Bisa Kembali Sekolah dengan Tetap Berjilbab

Shaima Saidani, seorang siswi sekolah dasar di kota Girona, Spanyol akhirnya bisa kembali ke sekolah dengan tetap mengenakan jilbab, setelah pemerintah wilayah setempat mencabut larangan berjilbab karena dianggap diskriminatif.

Seminggu yang lalu, sekolah tempat Saidani belajar, Joan Puigbert-Annexa Junior School di kota itu melarangnya masuk sekolah, karena ia menolak untuk melepaskan jilbabnya. Menurut pihak sekolah, jilbab melanggar aturan internal sekolah tentang diskriminasi di kalangan siswa sekolah.

Pihak sekolah juga menulis surat pada orang tua Saidani, tentang jilbab yang dikenakan puterinya. Namun orang tua Saidani mengatakan bahwa puterinya mengenakan jilbab atas kemauan sendiri, dan bukan atas tekanan dari orang lain.

Departemen pendidikan wilayah Catalonia menilai tindakan manajemen sekolah dengan melarang siswinya mengenakan jilbab, justru merupakan tindakan diskriminatif. Untuk itu departemen pendidikan membatalkan keputusan pihak sekolah dan memerintahkan agar pihak sekolah membolehkan Saidani kembali belajar dengan tetap mengenakan jilbab.

"Dia sudah kembali ke sekolah hari ini. Alhamdulillah, masalahnya sudah selesai, " kata Noana Alharami, ibu dari Saidani.

Departemen Pendidikan menyatakan bahwa Spanyol menghormati semua agama dan mengizinkan para muslimah mengenakan jilbab. Hak-hak Saidani untuk mendapatkan pendidikan, menurut para pejabat di departemen pendidikan, jauh lebih penting ketimbang peraturan sekolah dan pihak sekolah harus menerapkan sikap toleransi.

Ibu Saidani mengungkapkan, keluarganya sudah bersiap-siap untuk kembali ke tanah kelahiran mereka di Maroko, jika puterinya tidak diizinkan ke sekolah dengan mengenakan jilbab.

Joan Puigbert-Annexa Junior School, ujar Ibu Saidani, adalah sekolah kedua bagi puterinya. Saidani keluar dari sekolah yang pertama, setelah beberapa siswa di sekolah lamanya menarik jilbabnya sampai lepas.

Spanyol saat ini memiliki sekitar 800. 000 warga Muslim dari total jumlah penduduk sebanyak 40 juta orang. (ln/iol)