free hit counters
 

Tragedi Tiananmen, Kala Tank Militer China Bantai Ribuan Pejuang Demokrasi

Redaksi – Minggu, 22 November 2020 17:30 WIB

Eramuslim.com – Pada 1989, siswa di China menggelar unjuk rasa untuk memperjuangkan demokrasi dan kebebasan di jantung ibu kota, memancing dukungan dari kaum pekerja dan intelektual hingga memicu aksi protes di seluruh penjuru negara.

Setelah beberapa pekan, demonstrasi itu dilibas dengan serangan militer yang merenggut ratusan, bahkan ribuan nyawa.

Di kancah dunia, peristiwa ini masih terus diingat. Namun di China, tragedi ini ditutup-tutupi, bahkan tak pernah disebut lagi.

Untuk mengenang tragedi tersebut, AFP merangkum lima momen kunci dari peristiwa penuh gejolak tersebut.

Kematian sang reformator

Keputusasaan warga China memuncak ketika tokoh politik yang mereka anggap sebagai reformator sejati, Hu Yaobang, meninggal dunia pada 15 April.



Hu Yaobang terpilih sebagai pemimpin Partai Komunis China pada 1981, tapi kemudian diberhentikan enam tahun setelahnya karena dianggap terlalu santai menghadapi gelombang kerusuhan mahasiswa.

Hu lantas dipuja sebagai pengusung reformasi liberal. Dua hari setelah kepergiannya, warga pun frustrasi dan menggelar demonstrasi pertama di Lapangan Tiananmen.

Aksi protes menjamur

Pada 25 April, pemimpin tertinggi Deng Xiaoping menyatakan bahwa gerakan protes itu digelar sebagai upaya untuk menggulingkan Partai Komunis.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru