free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (18)

Redaksi – Rabu, 30 Ramadhan 1440 H / 5 Juni 2019 07:30 WIB

pejuang12Eramuslim.com – Di Aceh, para ulama menyerukan agar rakyat bersama-sama bahu-membahu menghadang tentara Belanda yang hendak menjajah kembali. Rakyat Aceh bukan saja siaga mempertahankan Tanah Rencong, tetapi juga mengambil inisiatif untuk memerangi Belanda di perbatasan selatan, yakni di Medan yang kala itu dikenal sebagai front Sumatera Timur (Medan Area). Ribuan laskar Aceh mengalir dari pesisir Barat dan Timur serta dari dataran tinggi Gayo lewat Kutacane ke Medan Area guna berjuang mati-matian menghadang Belanda yang hendak menembus Aceh lewat Medan.

Berkarung-karung beras dikirim dari Aceh menuju kantong pertahanan republik di front Sumatera Timur. Ribuan lembu dan kerbau, ribuan karung emping dari beras dan melinjo, dan seluruh logistik yang ada mengalir deras dari Serambi Mekkah ke Medan Area. Demikian pula aneka senjata, mortar, dan amunisi.

Dari berbagai keterangan, bantuan logistik dari Aceh ternyata mengalir juga untuk front Tapanuli dan Sumatera Barat. Pertempuran di Medan Area berlangsung dengan amat dahsyat. Ribuan perempuan, anak-anak kecil, dan orangtua mengungsi ke Aceh. Di Aceh, mereka disantuni dengan amat baik dan dianggap sebagai sanak-saudara oleh rakyat Aceh.

Sikap nasionalisme dan pengorbanan rakyat Aceh sangat tinggi. Walau dalam keadaan yang pas-pasan, saat pemerintah pusat menganjurkan rakyat agar membeli obligasi yang dikeluarkan guna mengisi kas pemerintah yang nyaris ludes akibat perang, berbondong-bondong rakyat Aceh—baik yang miskin maupun yang kaya—membelinya. Dengan penuh keikhlasan, rakyat Aceh menjual sawah, kebun, binatang peliharaan, aneka perhiasan emas dan perak, untuk ditukar dengan obligasi itu. Sejarah mencatat, rakyat Aceh sampai saat ini tidak pernah menerima pembayaran obligasi ini atau pun menagihnya dari pemerintah Jakarta.

Ketika pusat pemerintahan RI di Yogyakarta jatuh dan Bung Karno-Bung Hatta ditawan Belanda, maka hubungan antara Republik Indonesia dengan dunia internasional terputus. Suara RRI Yogyakarta yang selama ini menyiarkan gegap-gempita perjuangan mempertahankan kemerdekaan ke dunia dibungkam Belanda. Di saat yang genting ini, peran penting RRI Yogyakarta dengan cepat diambil-alih oleh RRI Kutaraja (Banda Aceh). Dari Kutaraja inilah kaum republik melawan propaganda Belanda yang disiarkan lewat corong stasiun radio di Medan dan Jakarta.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus