Ghost Fleet, Flash Gordon, dan Gerakan Kebangkitan Indonesia

Sudah banyak komentar dan menjelaskan siapa PW Singer itu. Dia bukan sastrawan, jadi tidak pantas diletakkan sebagai novelis. Kapasitas P.W Singer sangat jelas, ahli politik dan strategi perang abad 21. Karya-karyanya jelas, konon sebagai rujukan Pentagon, Kongres AS dan kajian ilmiah. Bukunya “Wired for War” dinobatkan sebagai Non-Fiction Book of the Year 2009 oleh majalah Financial Times. Buku tersebut sebagai bacaan resmi dan diminati prajurit Angkatan Udara Amerika dan Angkatan Laut Amerika dan Australia.

P.W Singer mungkin menyadari, generasi muda suka membaca Novel ketimbang buku Ilpengtek. Di sisi lain, bisa jadi untuk menghindari kecaman, atau kejaran pertanggungjawaban, karena ceritanya menyangkut negara-negara besar. Kalau toh itu terjadi, Singer cukup menjawab enteng, bahwa itu hanyalah novel, tidak perlu panik apakah itu salah atau bener. P.W Singer tidak perlu mempertanggungjawabkan.

Memang tidak lazim prakiraan perang ditulis dalam novel. Umumnya prakiraan itu hasil kajian strategis dan intelijen, disertai beberapa skenario. Hanya Singer yang tahu mengapa dia menulis novel tersebut. Apakah P.W Singer mirip Sunan Kalijaga, memilih wahana yang tepat, untuk mengajak orang lain mengikuti pendapat dan alur pikirannya, sekaligus penyelematan diri dari kecaman? Seperti kita ketahui, Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa melalui budaya masyarakat Jawa, khususnya wayang. Bagi yang cerdas, akan mengambil esensi novel Singer dan mengkaitkannya dengan situasi yang sedang dan akan berkembang.