Cara Nabi Muhammad Menghadapi Kritik

Menurut Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW, beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri kecuali karena kehormatan Allah SWT dilanggar. Kemudian, ia akan membalas dendam demi Allah SWT.

Dengan tidak membiarkan masalah menjadi pribadi, dia mampu mengevaluasi kritik secara rasional dan menegaskan tanggung jawabnya untuk membayar kembali utangnya pada waktu yang tepat. Meskipun tidak terlambat membayar kembali utangnya, reaksinya tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga mencapai hasil yang tidak akan pernah tercapai, jika dia bereaksi defensif.

Dalam kejadian lain, Nabi Muhammad SAW pernah membagikan barang jarahan usai perang kepada orang-orang. Orang pertama menerima barang rampasan dan yang mendapat bagian paling banyak adalah orang-orang yang baru saja memeluk Islam.

Segera setelah memberikan mualaf, Nabi Muhammad SAW memerintahkan Zaid ibn Thabit mengambil barang rampasan dan memanggil orang-orang. Kemudian, ia menunjuk bagian yang akan diberikan kepada rakyat.

Distribusi ini dilakukan sesuai dengan kebijakan yang bijaksana. Namun, tidak semua orang menyadari dan menghargainya.

Beberapa orang di Madinah mulai keberatan dengan pembagian yang mereka berikan. Pengaduan terjadi berupa tuduhan hingga Saad ibn Ubadah mendatangi Nabi Muhammad SAW.

“Ya Rasulullah, kelompok Ansar (orang Madinah) ini kesal dengan pembagian barang rampasan. Anda telah membagikan bagian kepada sanak saudara Anda sendiri dan memberikan banyak hadiah kepada suku-suku Arab, meninggalkan Ansar tanpa apa-apa. Ya Rasulullah, Anda tahu aku hanyalah anggota dari kelompok,” kata Saad saat itu.