Bapak…

Setiap malam, bapak menyetrika sendiri seragam dinasnya. Itu bapak lakukan bukan karena tidak punya isteri, anak atau khadimat. Melainkan itu sudah kebiasaannya dari kecil untuk mandiri.

Setiap pagi, bapak sibuk membuang sampah, membereskan alat makan kotor agar lebih mudah ketika dicuci. Sibuk memenuhi air di bak dan ember agar ketika listrik padam, kami tidak kekurangan air. Sibuk kembali merapihkan seragamnya dan meminta aku atau adikku untuk menyemir sepatunya yang sudah lama tapi tampak baru, agar orang lebih nyaman melihatnya.

Dulu, sahabat untuk bepergiannya dalam hujan dan panas ialah sepeda motor. Bapak sangat menjaga dan merawat motor kesayangannya. Karena motor juga punya perasaan. Hingga kini, alhamdulillah Allah memberi kami mobil, bapak sangat rajin mencucinya, lebih nyaman kalau bersih, kata beliau.

Bapak, senang sekali ngobrol dan makan bareng orang – orang yang membantunya merapihkan taman atau rumah. Bapak suka bercanda, walau kadang kelewatan.

Bapak, tidak suka basa – basi, tidak banyak bicara.

Bapak, tetap mempertahankan kejujuran walau tidak disukai dilingkungan kerja yang notabene nya "tempat basah", karena tidak ingin ada hal yang haram dalam darah kami, keluarganya.

Bapak, yang dengan sabar menunggu hingga larut malam jika kami belum pulang.

Bapak, yang lulusan SMEA, tetapi selalu mengatakan "walau bukan lulusan perguruan tinggi, yang penting bisa menafkahi keluarga hingga kami hidup jujur dan dengan cara yang halal"

Ya… Begitulah bapak. Walau beliau belum banyak paham mengenai Islam. Namun, usahanya mencari nafkah bagi kami dan berusaha agar kami tidak kekurangan sudah menjadi nilai yang sangat besar dimata Allah.

Walau terkadang saya lebih sering membandingkan dirinya dengan bapak – bapak yang lain. Jika ketika seorang bapak bisa menjadi teman cerita bagi anaknya, sedangkan bapak, untuk berdiskusi pun kurang nyambung, namun dalam diamnya ada doa.

Ketika kulihat teman – teman di jemput menggunakan mobil yang nyaman, kulihat dia menungguku di samping motor memakai jaket agar tidak kedinginan berjam – jam. Ketika kulihat teman – teman berjalan – jalan dengan ayahnya ke berbagai tempat. Kulihat beliau sedang tertidur lelap di sore hari karena kelelahan.

Bapak, umurnya sudah tak muda lagi. Kulihat badannya mulai bertambah kurus. Kulihat kulitnya mulai keriput. Kulihat tangannya selalu memegang mata sebelah kiri karena stroke ringan agar orang tak terlalu memperhatikannya. Kulihat beliau selalu terlihat cepat lelah.

Allah….engkau lebih mengetahui harapan, semangat, perjuangan, kelelahan dan niatnya untuk kami.

Allah… Berilah bapak tempat yang layak disisiMu kelak… Karena setiap tetesan keringatnya ialah jihad.

Bapak, apapun keadaanmu. Kami selalu mencintaimu apa adanya.