Benih Kenang

Benih Kenang
Oleh

Yon’s Revolta

Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini,
Anda juga membuat dia berbahagia
dua puluh tahun lagi,
saat ia mengenang peristiwa itu.

(Sydney Smith)

Kehidupan yang lalu adalah kenangan…

Kita hanya bisa mengenangkan peristiwa yang telah lampau. Begitulah, tak ada yang lain. Mengutuk masa lalu, tak ada gunanya, hanya membuat hati dongkol saja Kita mengenang hari lalu dengan mengambil pelajaran atas setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Inilah cara terbaik yang bisa kita lakukan. Mungkin, kita pernah melakukan tindakan paling bodoh atau konyol. Biarlah peristiwa ini terkenangkan. Kelak, pengalaman mengajarkan kepada kita untuk tidak akan mengulanginya di kemudian hari. Kalau tetap mengulanginya keledai namanya. Ini kata orang.

Ketika kita mengenang sesuatu, kadang terbesit, teringat kembali kepada sosok yang sangat baik. Sosok seseorang yang telah tulus membantu dalam kehidupan kita disaat kita kesulitan. Dia begitu berharga, menorehkan sejarah tersendiri dalam kehidupan kita. Atas perilaku baik yang dilakukannya, tersimpan dalam memori dan ingatan kita, betapa peran yang telah diperbuat sangat punya pengaruh ketika kita sudah seperti sekarang ini. Ya, dia memang sosok yang terkenangkan.

Hari ini, saya teringat dengan beliau, sosok yang pertama kali mengenalkan saya pada huruf-huruf Al-Quran. Beliau bernama Ustadz Hambali Syam, seorang guru dari Lamongan, Jawa Timur. Beliau begitu sabar mengajar saya. Maklum, waktu itu, saat saya Sekolah Dasar (SD), saya bersekolah di yayasan Katholik, jadi tak ada pelajaran agama Islam. Saya diajar oleh sang ustadz itu sepulang sekolah di sebuah Taman Pendidikan Al-Quran. Al-Muhajirin namanya, pada sebuah kampung di Magelang.

Saya ingat betul, saat itu suara saya serak-serak basah. Saya kurang tahu, sejak kecil begitu. Kalau membaca sesuatu, nafas terengah-engah. Entah, apa penyebabnya, dari kecil begitu. Dalam kondisi seperti itulah, ustadz itu begitu sabar menuntun saya mengenal alif Ba Ta lewat 6 jilid buku Iqra. Memang, suara saya yang payah itu berangsur membaik selepas saya sunat. Tak ngos-ngosan lagi. Saya juga kurang tahu, kenapa begitu. Yang saya tahu, yang teringat dalam benak, sang ustadz itulah yang pertama kali mengajarkan saya membaca Al-Quran disaat kondisi suara yang payah itu.

Berkat kesabarannya, sampai saat ini saya bisa membaca Al-Quran, walaupun tak begitu baik, tapi bisa. Setidaknya, tak terlalu terbata-bata. Begitulah, kenangan yang silam. Kita hanya bisa mengenangkannya, Ustadz Hambali Syam, telah menabur kenang dalam diri saya. Hingga, beberapa tahun kemudian masih saja saya ingat jasa baiknya. Sebagai mantan muridnya, cara terbaik barangkali mengucapkan terimakasih, dan sowan ala kadarnya kepadanya. Sayang, beliau telah telah tiada. Dari informasi yang saya dapatkan, telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Saya hanya bisa berdoa saat ini, semoga Allah SWT memberikan tempat yang baik. Bagimanapun juga, apa yang dilakukannya telah menjadi sepohon amal yang terus tumbuh. Ya, beliau yang pertama kali mengajarkan Al-Quran kepada saya. Ketika sayapun kembali mengajarkan baca Al-Quran kepada anak-anak TPA, kepada orang lain, saya yakin beliau juga tetap akan mendapatkan amal baik itu. Amal yang akan memperberat timbangan kebaikannya.

Inilah bening kenang. Kitapun juga perlu menaburnya saat ini, sebelum ajal tiba. Menabur benih-benih kenang yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Kelak, orang akan mengenang kita dengan perilaku baik kita. Tapi, yang perlu kita ingat, ini bukan motif utama kita. Satu hal yang mendasarinya adalah ketulusan untuk berbuat baik. Siapa menabur kebaikan, akan menuai kebaikan pula. Ini rumus kehidupan. Sekarang, cobalah sama-sama kita evaluasi, hari ini, sudahkah kita menabur benih kenang itu…?

Rumah Kelana, 14-Agustus-2007

http://penakayu. Blogspot. Com