Kisah Sosok Zaim Saidi Yang Hebohkan Dinar Dan Dirham

Seperti yang dibilang suami keponakan saya Sunardi M, seorang anak muda sedikit nyentrik.Ia menyebut sosok Zaim memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Sejak muda menurut saya memang sudah demikian kritis. Untuk mencapai apa yang dicita-citakan ia termasuk pekerja keras. Dan benar kata saudara saya lainnya, Zaim memiliki perhatian kepada saudara dan familinya.

Pada Lebaran dia memang jarang pulang, tetapi setiap hari Raya Qurban dia dipastikan pulang kampung. Untuk apa? menebar kebaikan. Zaim menjadi koordinator bagi anggota keluarga untk menebar kurban. Dia melaksanakan pesan sebagaimana dicita-citakan ibu yang sepanjang hidupnya agar selalu menyembelih hewan kurban di desa-desa.

Hari Raya qurban juga dijadikan moment penting untuk kumpul keluarga yang bertebaran dimana-mana. Ada yang jadi dokter, professor,penjahit, pedagang dan ada pula yang jadi wartawan dan seniman.

Dalam tulisannya saudara saya yang lain, Nardi menyebut,  bakat menulisnya dan kepedulian kepada umat bisa dilihat dari buku-buku karyanya. Ia pernah menjadi ketua  Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Zaim dan hampir semua saudara laki-laki merantau ke Jakarta, membiayai kuliah sambil kerja. Hampir semua saudara laki-lakinya kuliah di uiversitas negeri seperti IPB, UI bahkan ada yang mengabdi di kampus ini sambil menamatkan S3 di negeri Paman Sam.

Dan tak lupa ada yang alumni UNS. Hanya satu orang yang mogol, memilih jadi wartawan dan seniman, yakni saya.

Adik saya ini menamatkan S1nya di IPB dan melanjutkan S2 di University Of Sydeny setelah mendapatkan beasiswa Merdeka Fellowship dari pemerintah Australia. Dan setelah Pilpres 2004- 2006 Zaim mengembara ke Inggris dan Afrika Selatan.

Di sanalah, seperti ditulis Sunardi, Zaim bertemu Syaikh Dr Abdulqodir Assuffi, Mursyid Thariqoh Syaziliyah Darqowiyah. Syaikh ini adalah Muaalaf yang juga seorang pemikir dan penulis aktif yang nama aslinya Dr Ian Dallas.

Interaksi Zaim dengan murid-murid ‘Sang Syaikh’ yang berasal dari berbagai belahan dunia menjadi titik pemikiran Zaim tentang pentingnya muamalat dan ekonomi syariah. Dan, jika ingin tahu lebih dalam soal pikiran Zaim bisa baca buku-buku karyanya.

Semula Zaim  yang Suni, penganut mazhab Syafii, dan kini cenderung ke  Imam Maliki, sebagai pengamal Thariqoh yang Mutabaroh Insyaallah termasuk Muslim taat, dan memilki keyakinan atas kebenaran yang dipegang teguhnya.

Kami paham, Allah memang tidak menjanjikan hidup itu mudah. Yang dijanjikan Allah adalah ada kemudahan setelah kesulitan.

Disini mengandung makna, ada ujian keteguhan atas kesabaran dan keimanan kita yang tidak bisa dicampuri tangan siapapun, kecuali Allah.

Saya yakin ada sekenario besar Allah, yang bakal diberlakukan. Dan hukum abadi yang akan berlaku dan terjadi adalah: kebaikan berbalas kebaikan, kejahatan berbalas kejahatan.

Kami paham itu, dan sangat menghayatinya!

Malam ini mendadak aku rindu ayah dan ingin bercerita tentang anak-anaknya. [rol]

Penulis: Moh As’adi, Jurnalis Senior Republika