Kegelisahan PKS dan Keretakan Setgab

Kamis, 23/12/2010 14:52 WIB | Arsip | Cetak

Pekan ini merupakan sinyalemen yang paling kuat adanya keretakan sekretariat gabungan atau Setgab Koalisi partai-partai pendukung SBY. Keretakan itu setidaknya terbaca dari ungkapan atau lebih tepatnya ancaman dari wakil Sekjen PKS, Mahfudz Siddiq terhadap Setgab.

Mahfudz mengatakan, jika Setgab tidak mengubah pola komunikasinya yang lebih kepada sosialisasi kebijakan pemerintah daripada penggodokan kebijakan, maka PKS akan mengajak partai-partai lain anggota koalisi seperti PPP, PAN, PKB, untuk bergabung dalam koalisi tengah untuk kemudian bergabung dengan PDIP.

Ancaman ini tentu mendapat reaksi keras dari pihak Demokrat yang menjadi pimpinan koalisi. Menurut salah seorang petinggi Demokrat, Syarif Hasan, ancaman PKS terhadap Setgab sebenarnya menunjukkan ketidakberesan di internal PKS sendiri. Karena menurut Syarif, Presiden PKS, Luthfi Hasan, seperti yang terungkap dalam pernyataannya selalu komit terhadap Setgab.

Hasan menambahkan, kalau Presidennya menyatakan komit tapi anak buahnya tidak, itu menunjukkan ketidakberesan di internal PKS sendiri. Jawaban keras lain juga muncul dari wakil Sekjen Demokrat. Menurutnya, kalau PKS sudah tidak cocok lagi dengan Setgab, silakan keluar saja dari Setgab.

Pertanyaannya, benarkah kritik dan ancaman PKS yang dialamatkan ke Setgab memang benar-benar ditujukan untuk perbaikan Setgab yang selama ini memang berlangsung tidak mulus. Atau, itu hanya sebagai alat tawar PKS untuk keamanan posisi kabinet di KIB II.

Pertanyaan itu muncul setidaknya karena dua alasan. Pertama, kondisi dinamika Setgab sejak awal memang berpotensi memunculkan ketidakberesan. Terutama ketika posisi ketua harian dipegang oleh Golkar yang bukan berasal dari partai koalisi SBY. Tapi, lebih karena bargaining di tengah jalan. Jadi, wajar-wajar saja kalau konflik antar partai koalisi di Setgab bisa pecah. Dan itu sudah berlangsung sejak Setgab dibentuk.

Kedua, beredar kabar bahwa satu dari empat menteri PKS ada kemungkinan akan diambil oleh Golkar. Dan kabar ini memang sudah berlangsung lama sejak Setgab dibentuk. Sebagian kalangan menilai, ancaman PKS terhadap Setgab tidak lebih dari tawar menawar PKS untuk menyelamatkan empat posisi menterinya.

Ancaman untuk gabung dengan PDIP pun sebenarnya bukan perkara mudah. Ada dua alasan bahwa koalisi PKS dengan PDIP sebuah perkara luar biasa. Pertama, PDIP sudah mensyaratkan bahwa koalisi harus murni di satu kaki.

Artinya, jika PKS mau koalisi dengan PDIP, maka PKS harus keluar dari koalisi dengan SBY. Dan itu berarti melepas seluruh posisi menteri di kabinet SBY.

Ini merupakan pilihan berat. Bagaimana mungkin sebuah strategi jika memang untuk menyelamatkan satu menteri, tapi harus berakhir dengan kehilangan empat menteri.

Kedua, koalisi PKS dengan PDIP masih merupakan jalan yang tabu jika dilihat dari garis ideologi PKS yang masih menjual simbolisme Islam bisa dibilang sangat berseberangan dengan ideologi PDIP yang sangat liberal. Jika ini diproyeksikan untuk pertarungan 2014, maka PKS akan ditinggal konstituennya. Dengan kata lain, koalisi PKS PDIP, lebih menguntungkan PDIP yang akan menyerap massa PKS daripada sebaliknya.

Lalu, benarkah kalau ancaman PKS ini lebih menunjukkan adanya konflik PKS dengan kondisi internalnya seperti yang diungkapkan Sekjen Demokrat, Syarif Hasan?

Ungkapan ini selain sebagai serangan balik, boleh jadi sebagai sinyalemen adanya konflik di internal PKS antara kubu parlemen dengan yang ada di kabinet. Sekadar untuk mengingatkan apa yang pernah diungkapkan menteri Kominfo, Tifatul Sembiring beberapa bulan lalu. Bahwa, ada yang celamitan di internal PKS yang ada di parlemen.

Benarkah? Semoga kondisi buruk di tubuh Setgab koalisi ini menjadi pelajaran berharga buat partai-partai Islam untuk lebih mengendepankan perjuangan ideologis demi kemaslahatan dakwah ketimbang meraih rente-rente koalisi. mh

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Analisa

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


BSM Terima Penghargaan Service Excellence Award 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) kembali menoreh prestasi sebagai  Award Service Excellence Award 2012. Penghargaan kali ini diberikan oleh  Carre Customer Satisfaction & Lo...

Bedah Film Negeri 5 Menara di Universitas Mercubuana
Karya Anak bangsa yang mulai tayang perdana 1 Maret 2012 ini terus mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Salah satunya melalui Bedah Film Nasional N5M ...

Baso Jadi Nominator di Festival Film Bandung
Alhamdulillah, Film Negeri 5 Menara yang disponsori oleh  iB Perbankan Syariah bank Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri . ...

Ekonomi Syari’ah, Kunci Atasi Krisis Global
Berbagai kelemahan yang terdapat pada bank konvensional menjadi isu utama penyebab krisis keuangan global. System ekonomi syari’ah memiliki daya tahan yang kuat terhadap kri...


Peluang