CIA dan 70 Tahun Dosa Kejahatan Terorganisir (Bag.II)

Sudah diketahui bahwa ketika CIA memilih agen-agen atau orang untuk menjalankan milisi atau unit kepolisian rahasia di negara asing, agensi itu memberlakukan penyaringan psikologis yang ketat. John Marks di The Search for the Manchurian Candidate mengatakan bagaimana CIA mengirim psikolog terbaiknya, John Winne, ke Seoul untuk “memilih kader awal” bagi CIA Korea. “Saya mendirikan sebuah kantor dengan dua penerjemah,” ujar Winne mengatakan pada Marks, “dan menggunakan Wechlsler versi Korea.”

Psikolog CIA memberikan tes penilaian kepribadian pada dua lusin petugas polisi dan militer, “kemudian menuliskan setengah halaman laporan per orangnya, membuat daftar kekuatan dan kelemahan mereka. Winne ingin mengetahui kemampuan setiap kandidat dalam mengikuti perintah, kreatifitas, kekurangan tentang gangguan kepribadian, motivasi – mengapa dia ingin keluar dari pekerjaannya saat ini. Kebanyakan dikarenakan uang, khususnya pada penduduk sipil.

Dengan cara ini, CIA merekrut pasukan kepolisian rahasia sebagai aset di setiap negara di mana ia beroperasi, termasuk Iraq dan Afghanistan. Di Amerika Latin, Marks menulis, “CIA … menemukan proses penilaian paling berguna untuk menunjukkan bagaimana melatih bagian anti-teroris. Menurut hasilnya, orang-orang ini ditunjukkan memiliki psikologi yang sangat bergantung dan membutuhkan arahan yang kuat.”

“Arahan” itu datang dari CIA. Marks mengutip salah satu penilai yang mengatakan, “Kapanpun perusahaan itu mengeluarkan uang untuk melatih seorang asing, tujuannya ialah bahwa dia pada akhirnya akan melayani tujuan kita.” Petugas CIA “tidak puas hanya bekerja sama dengan badan-badan Intelijen asing ini; mereka berusaha keras memasukinya, dan Sistem Penilaian Kepribadian memberikan bantuan yang berguna.”

Apa yang tidak banyak diketahui ialah bahwa staf manajemen eksekutif CIA jauh lebih peduli dengan memilih kandidat yang tepat untuk bekerja sebagai petugas CIA dari pada memilih agen di luar negeri. CIA mendedikasikan sebagian besar anggarannya untuk menentukan cara memilih, mengendalikan dan mengelola kekuatan kerjanya sendiri. Ini dimulai dengan menanamkan ketaatan buta. Kebanyakan petugas CIA menganggap diri mereka sebagai tentara. CIA dibangun sebagai sebuah organisasi militer dengan rantai komando keramat yang tidak dapat dilanggar. Seseorang memberitahumu apa yang harus  dilakukan, kamu memberi hormat dan melakukannya. Atau kamu keluar.