Turki Negara Paling Dermawan 2017

Turki menduduki peringkat ketiga dalam laporan DI untuk tahun 2013, 2014 dan 2015, dan kedua dalam daftar setelah AS pada 2016 dengan USD 6,3 miliar dihabiskan untuk dana bantuan.

Selain itu, Turki juga menampung pengungsi dalam jumlah terbanyak di dunia, yaitu 3,9 juta. Pada Mei, jumlah pengungsi Suriah yang tinggal di negara itu mencapai 3,6 juta jiwa.

Dua miliar orang miskin di seluruh dunia

Dalam laporan DI juga disebutkan bahwa 2 miliar orang di seluruh dunia miskin, dan 753 juta di antaranya menghadapi kemiskinan ekstrem.

“Orang miskin didefinisikan sebagai mereka yang bertahan hidup dengan kurang dari USD3,20 per hari, sementara kemiskinan ekstrem dihadapi oleh orang-orang yang hidup dengan kurang dari USD1,90 per hari,” jelas laporan itu.

DI juga memaparkan bahwa pada tahun 2017, bantuan kemanusiaan berjumlah USD27,3 miliar, kemudian USD26,4 miliar pada 2016, USD25,8 miliar pada 2015, USD22,1 miliar pada 2014, dan USD18,4 miliar pada 2013.

Sebagian besar bantuan kemanusiaan disalurkan ke Suriah (USD2,58 miliar), Yaman (USD1,55 miliar), Irak (USD1,42 miliar), Palestina (USD1,15 miliar), dan Sudan Selatan (USD1,1 miliar).

“Diperkirakan 201 juta orang di 134 negara membutuhkan bantuan kemanusiaan internasional pada 2017,” ungkap laporan tersebut.

“Sejumlah krisis kompleks terus menyerap sebagian besar bantuan kemanusiaan, sehingga 60 persen dari semua bantuan disalurkan ke 10 negara saja, dengan 14 persen untuk Suriah dan 8 persen ke Yaman,” tambah laporan itu.

Laporan itu juga menyoroti bahwa selama lima tahun berturut-turut, Suriah menjadi penerima bantuan kemanusiaan terbanyak.

DI adalah organisasi pembangunan internasional independen yang memfokuskan peran data sebagai pendorong upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan.

Beberapa lembaga internasional yang berkontribusi bagi laporan itu di antaranya ialah Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Badan Kerja Sama dan Koordinasi Turki (TIKA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).(yn/anadolu agency)