free hit counters
 

Ironis, LAPAN dan BMKG Numpang Satelit Jepang untuk Pantau Cuaca Indonesia

Redaksi – Senin, 9 Rajab 1442 H / 22 Februari 2021 19:30 WIB

Eramuslim.com – Belakangan ini cuaca di sebagian wilayah di Indonesia sedang melalui fase ekstrem. Badan Geologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya, melalui satelit.

Sebelumnya diberitakan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga telah mendeteksi cuaca ekstrem tersebut, menggunakan Satellite-based Disaster Early Warning System (Sadewa). Sadewa merupakan produk litbang LAPAN berupa aplikasi sistem peringatan dini atmosfer ekstrem berbasis satelit dan model atmosfer. Aplikasi dikembangkan untuk mendukung riset atmosfer maupun aplikasinya oleh badan operasional terkait.

Kendati demikian, Indonesia sebenarnya belum memiliki satelit cuaca sendiri. LAPAN dan BMKG menggunakan satelit cuaca milik Jepang, bernama Himawari 8.

“Untuk wilayah Asia Pasifik umumnya menggunakan satelit Himawari 8,” ungkap Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN, kepada MNC Portal Indonesia, Senin (22/2/2021).



Thomas menjelaskan, penggunaan satelit milik Jepang itu dalam bentuk kerja sama. LAPAN sendiri tidak memberikan apapun kepada Jepang atas penggunaan data dari satelit Himawari 8.

“LAPAN hanya menyediakan antena penerima. Prosedurnya mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan pihak JMA (Japan Meteorogical Agency),” papar Thomas.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Katalog Inderaja LAPAN, Himawari 8 merupakan satelit yang diluncurkan oleh JMA pada 8 Oktober 2014. Satelit mulai beroperasi pada pertengahan 2015 dengan membawa sensor AHI (Advanced Himawari Imager).

Satelit itu memiliki orbit geostationary dengan ketinggian 35.791 km. Resolusi spasial data Himawari-8 yaitu 0,5 km (band 3), 1 km, dan 2 km. Data Himawari 8 diaplikasikan untuk monitoring tingkat curah hujan, suhu atas awan, dan suhu permukaan laut. (sindonews)

Berita Nasional Terbaru