Peneliti Asing Kritik Habis Jokowi: Banyak SIfat Terburuknya…

Eramuslim.com – Presiden Jokowi dikritik habis dalam buku biografi karya peneliti Lowy Institute, Benjamin “Ben” Bland. Dari penanganan virus corona hingga rencana pindah ibu kota.

Dia menyebut pemerintah Indonesia ‘menunjukkan banyak sifat terburuknya’ seperti mengabaikan nasihat ahli, kurangnya kepercayaan pada masyarakat sipil, dan kegagalan untuk mengembangkan strategi yang koheren”.

Dilansir dari The Sydney Morning Herald, Kamis (13/8), hal itu mengakibatkan munculnya 2 juta pengangguran baru dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kasus virus corona tertinggi di Asia Tenggara.

Indonesia sendiri telah mengerahkan beberapa upaya untuk mengendalikan penyebaran virus corona, seperti membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan memberlakukan Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Selain itu, pemerintah juga memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 13,8 juta pekerja dengan gaji di bawah Rp5 juta sebesar Rp600 ribu selama 4 bulan. Stimulus dalam bentuk BLT ini diberikan dalam rangka pemulihan ekonomi di tengah pandemi corona.

Selain mengkritik perihal pandemi, Bland yang merupakan direktur program Asia Tenggara di Lowy Institute itu menyebut Jokowi ‘tertarik untuk menarik investasi dari siapa pun yang memiliki uang tunai paling banyak’ demi mencapai tujuan ekonomi domestiknya.

Salah satunya adalah China yang sedang membangun jalan, jembatan, pembangkit listrik, dan pelabuhan di seluruh Indonesia, selain jalur rel Jakarta-Bandung.

Kemudian Bland juga memberikan penilaian kerasnya tentang prioritas Jokowi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, China, dan negara-negara Asia Tenggara atas Laut China Selatan.

Dia menulis bahwa para pemimpin negara Barat sangat membutuhkan mitra baru di Asia untuk membantu melawan China. Namun, katanya, Jokowi tidak punya waktu membangun kekuatan politik besar.

Ekspetasi yang Terlalu Tinggi

Pria lulusan Universitas Cambridge itu juga memperingatkan ekspektasi kepada Jokowi yang terlalu tinggi.

Banyak pihak di Canberra  yang berharap Jokowi akan membuka ekonomi Indonesia untuk investasi Australia dan berdiri di kawasan itu sebagai kekuatan penyeimbang melawan China.