Hersubeno Arief: Sering Absen di Forum Internasional, Ada Apa Dengan Jokowi?

Berdasarkan laporan yang dikumpulkan oleh Komisi Tinggi HAM PBB, Cina melakukan langkah sistematis menghancurkan dan menghilangkan eksistensi etnis Uighur. Selain menangkap dan memasukkan mereka ke kamp konsentrasi, anak-anak Uighur dimasukkan ke sekolah-sekolah indoktrinasi Partai Komunis, banyak wanita Uighur yang dipaksa menikah dengan pria etnis HAN.

Pada bulan Ramadhan mereka dilarang berpuasa, pelaksanaan ibadah dan perayaan keagamaan umat Islam mulai dibatasi. Pemerintah Cina berdalih kamp itu dibuat guna menekan radikalisme di kalangan etnis Uighur. ”Kami ingin supaya Cina bersikap serius dengan masalah ini,” kata Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet, seperti dilansir CNN, Kamis (6/12).

Jokowi sering absen

Sebagai negara dengan komunitas Islam terbesar di dunia, sangat wajar bila banyak yang yang berharap Indonesia menjalankan perannya. Apalagi Indonesia saat ini mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Cina.

Sayangnya sejak pemerintahan Jokowi, peran Indonesia di dunia internasional semakin lemah. Bahkan dalam skala regional Asean peran Indonesia sebagai big brother juga mulai melemah, digantikan Singapura dan Malaysia. Kembalinya Mahathir Muhammad sebagai PM Malaysia, semakin meminggirkan peran Jokowi. Secara aura dia kalah jauh.

Indonesia semakin kurang diperhitungkan seiring sikap pribadi Jokowi yang terkesan menghindari berbagai forum internasional. Sampai saat ini Jokowi sudah absen sebanyak empat kali dalam gelaran Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SU PBB). Kehadirannya banyak diwakilkan kepada Wapres Jusuf Kalla.

Media mencatat Jokowi sebagai seorang kepala negara yang paling banyak “membolos” dari SU PBB. Dia mengalahkan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping yang masing-masing tidak hadir sebanyak dua kali. Namun agak berbeda dengan Putin dan Jinping yang punya alasan politis, Jokowi selalu menjadikan kesibukan di dalam negeri sebagai alasan.