Sindroma Anak Kaisar “Tuan 92 Persen”

Eramuslim.com – GIBRAN Rakabuming Raka merasa telah “booming” karena mendapat dukungan koalisi mayoritas partai politik. Bahkan partai politik baru tanpa malu-malu juga ikut nimbrung.

Dulu awalnya tidak terpikir untuk berkompetisi menjadi kepala daerah katanya, mungkin takut menyulitkan posisi sang ayah yang mengagendakan jabatan politik yang lebih meroket.

Situasi kini berbeda, telah muncul keinginan untuk menjadi walikota yang tentu mendapat dorongan atau dukungan penuh ayahanda.

Masyarakat melihat status Gibran sebagai “putera raja” menjadi modal politik terbesar.

Adapun modal kecilnya kompetensi dan pengalaman dan itu sangat minim. Jualan martabak pasti bukan modal sosial untuk meraih jabatan politik.

Mulai merasa “over confidence”. Gibran berujar bahwa kemenangan sudah pasti, tetapi tidak mau 70 persen atau 80 persen harus mencapai 92 persen.

Sebenarnya target 110 persen juga boleh-boleh saja namun harus berdasarkan kalkulasi rasional untuk mencapainya.

Atau memang pesaing independennya itu adalah pasangan “abal-abal” sehingga dianggap enteng? Semacam shadow boxing. Atau mungkin sudah siap dengan kelicikan mark up otak atik suara KPU 29 menjadi 92?

Jadi teringat model kekaisaran Romawi atau Cina yang selemah apapun sang putera atau kerabat dapat dengan mudah menduduki kursi jabatan Kaisar.