Buah Manggis

Buah sebesar buah jeruk. Berwarna ungu tua mendekati hitam. Berkulit tebal. Namun bila kita buka isinya. Tampaklah warna putih bersih. Tak sebanding dengan luarnya yang ungu kehitaman. Rasanya, bila sudah matang, teramat manis. Itulah buah manggis.

Orang yang tak kenal, akan menganggapnya buah yang tak menarik selera. Jangankan tuk dimakan, sekedar dilihat pun tidak. Begitulah kiranya orang yang tak kenal si buah manggis. Tapi bagi yang mengenalnya, jangan harap bakal dianggurin. Pastilah kan disantap, apalagi cuaca hari itu panas dan tiada makanan lain. Kecuali si buah manggis. Hem… Lazzatun. Masya Allah

Betapa banyak simbol-simbol kebaikan, Allah berikan pada kita sekalian manusia. Pantaslah Allah mengingatkan lewat firmannya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Al-Imran:190)”.

Contoh di atas adalah si buah manggis. Tamsilnya adalah jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja. Seringkali saya menilai, bahwa tampilan yang keren dan perlente. Menunjukkan yang bersangkutan adalah orang yang beradab, bermoral dan berpendidikan. Padahal penilaian tersebut tidak sepenuhnya benar. Bisa saja salah dan kemudian kecewa. Sebab kita para manusia, diberi Allah kemampuan menyembunyikan aib sendiri. Tidak seperti hewan, bila tidak mandi saja. Kita kan tahu dari rupa dan aroma yang dikeluarkannya. Tapi kita manusia, cukup berkumur-kumur, basuh muka dan rambut. Kemudian sisiran dan semprot deh, nih badan dengan parfum atau cologne. Beres. Siapa kan tahu kita belum mandi?

Berikut ini adalah salah satu inspirasi si Buah Manggis dalam tataran riil kehidupan kekinian.

Pak Romli adalah sahabatku yang kebetulan menjabat Ketua RT di lingkungan rumahnya. Selain menjadi RT beliau pun aktif di Masjid kami sebagai Ketua DKM. Beliau sudah berusia 50 tahunan. Maka tak berlebihan saya memanggilnya Aki Romli. Pada suatu hari beliau didatangi dua orang mahasiswi yang hendak mengurus izin tinggal. Maklum daerah kami adalah daerah mahasiswa yang tentunya secara ekonomi sangat mengutungkan. Karena letaknya sangat dekat dengan dua kampus besar UNPAD dan ITB. Yah, tak sedikit memberikan ‘devisa’ kepada penduduk didaerahku. Lewat bisnis kos-kosan yang dikelola warga.

Diterimalah keduanya oleh Pak Romli di ruang tamunya. Biasa sebagai Ketua RT, beliau menanyakan maksud dan tujuan sang tamu. Sambil meminta apa saja yang telah disiapkan oleh mereka. Kalau belum siap, beliau akan meminta denga halus kepada mereka agar segera memenuhi syarat-syarat standar. Jangan harap kita bisa ‘men-duit-i’ beliau, supaya bebas perkara. Tapi ternyata respon yang diterima kedua mahasiswi ini berbeda. Seolah dipersulit. Prosedur standar pertanyaan dianggap terlalu kaku. Padahal beliau sekedar menunjukkan, ini loh pra syaratnya. Mudahkan.

Akhirnya mereka pun mengeluh. Diawali dengan menyepelekan sang RT. Dianggap, bahwa biasanya RT-RT dipilih pastilah cuman tamatan sekolah rendahan, semisal: SD dan SMP. Paling banter SMA. Itupun pegawai biasa, bukan manager. Apalagi direktur. Maka mulailah mereka merendahkan Pak RT. Hingga keluarlah lontaran “intelek” ala mereka. Setengah berbisik, namun masih terdengar halus.
“He is crazy”, kata mahasiswi pertama.
“Yes, cas… cis…cus… ”, jawab mahaiswa kedua.
Terjadilah percakapan bahasa Inggris antar mereka berdua. Menghina secara halus sang RT. Mereka kira Pak RT tidak pernah mengerti apa yang mereka obrolkan Asyik betul, sepertinya mereka bakal aman mendapat teguran dari Pak RT.
.
Diluar dugaan Pak Romli menyela pembicaraan dengan menggunakan bahasa Inggris yang jauh lebih fasih dari apa yang mereka ucapkan. Bahkan setengah menasehati keduanya. Kontan keduanya kaget. Sampai membuat keduanya malu tak karuan. Wajah mereka memerah menahan malu. Suara seakan tertahan di tenggorokan. Tubuh mereka setengah membungkuk. Dengan wajah agak ditundukan. Malu teramat malu. Kemudian mengiba meminta ma’af.

Mereka tidak tahu. Kalau Pak Romli yang mereka hadapi adalah seorang Ahli di bidang NDT Level 3 (Non Dectruction Test). Yang sehari-harinya terbiasa dengan bahasa Inggris di sebuah industri pesawat terbang ternama negeri ini. Terbiasa berdebat dengan ‘bule-bule’. Hingga para ‘bule’ mengagumi ke-ahliannya dengan ucapan:”Expert…good…good. Melancong ke negeri orang mulai dari Asia seperti Singapura, Malaysia sampai ke Amerika, negara-negara Eropa. Terakhir Turki. Bahkan beliau menjadi instruktur/dosen untuk para S2 dan S3 di bidangnya. Sedang beliau sendiri cuman tamatan STM. Hanya berpendidikan Short Course dalam maupun luar negeri. Bersertifikat Internasional NDT yang harus diperbaharui sekian tahun. Dan selalu lulus uji. Sempat ditawarkan untuk bekerja di Hawai dan Eropa. Namun menolak. Selain karena idealisme addin dan nasionalisme juga karena perusahaan tempat beliau bekerja tak kan rela melepas begitu saja ahli yang dipunyai negeri ini.

Beliau sangat sederhana. Rumah secukupnya, motor kendaraannya. Padahal bila mau, bisa saja tinggal di lingkungan real estate dan bermobil. Tapi bagi beliau. Kekayaan itu bukan dilihat dari sesuatu yang nampak. Akan tetapi kekayaan itu adalah kebaikan (maslahat) bagi orang banyak.

Walau beliau mengenyam pendidikan STM, tapi pengetahuan dan pengalaman beliau menyamai seorang profesor di bidangnya. Semoga aku tidak berlebihan. Karena bagi orang yang baru mengenalnya, pastilah dianggap orang ini biasa-biasa saja.

Jangan mudah menilai orang dari apa yang terlihat. Tapi nilailah apa yang dia perbuat. Seorang muslim tidak dituntut menilik hati seseorang. Karena itu adalah haknya Allah..

“Sesungguhnya Allah tidak melihat seseorang dari wajah dan penampilannya. Akan tetapi Allah melihat seseorang dari hatinya (hadits)”.

Syukurku mengenal buah manggis.

Bandung, 16 Agustus 2007