Hidup Susah Di Akhir Zaman

Lain lagi muslim.

Bagi mereka yang hidup di negara mayoritas muslim, mereka disusahkan dengan maraknya berbagai aliran ”baru” (baca: sesat/ bid’ah) di tengah-tengah komunitas muslim. Berbagai aliran inipun getol mencari pembelaan dan dukungan dari beberapa tokoh penting elit negeri ini sehingga ”fatwa-fatwa” para politisi-pun bergema dikoran-koran lebih kencang dari dalil Al Qur’an dan Hadits. Bagi yang awam dengan dalil rujukan, maka kebingungan sudah pasti menyerbu.

Masih ada lagi kesusahan gara-gara ulah entah siapa yang dengan manisnya menyebar bom-bom (baca kaliber petasan) dalam buku kepada sejumlah tokoh anti Islam, sehingga kemudian lagi-lagi ”dendang tentang terorisme” kembali dinyanyikan media massa.

Bagaikan hantu jin dedemit entah turunan mana, ”teroris” dikabarkan bergentayangan di seantero kota. Siapa sih teroris? Nah ini susahnya, selalu ada nyanyiannya, namun kemudian penyelesaiannya cukup dengan dar-der-dor, habislah sudah tanpa bisa menjawab lagi.

Masih ditambah lagi dengan kemudian label ini dengan mudah ditempelkan ke mana saja. Kelompok A itu teroris, si B itu teroris, ustad anu  teroris…

Kabur, samar, kacau…. tidak ada kejelasan ayat-ayat atau hadits rujukan kecuali berbagai teori dari para pakar yang kadang-kadang muncul bagaikan dalang penutur di pagelaran wayang. Jika anda mendengarkan para pakar teroris sedang diwawancarai oleh media elektronik, anda akan tercengang dengan betapa banyaknya yang mereka ketahui tentang para teroris tersebut, sampai ke relung-relung hati para teroris itu dapat di terangkan dengan gamblang oleh si pakar. ”Si A ini semula direkrut oleh si X, kemudian ada konflik antar mereka kemudian si A malah bergabung dengan Y yang lebih bergaris keras”. ”Si Z ini menjadi aktor bom bunuh diri karena kecewa dengan kehidupan dalam keluarganya, ayahnya dipenjara, dst, dst”.

Luar biasa, dukun-pun kadang seperti itu ketika sedang menipu mangsanya. Koq mirip ya? Pakar ilmiah tapi sudah seperti dukun prewangan yang mampu menembus hati manusia.

Siapa yang tidak merasa susah hidup di dunia? Bukankah dunia memang sudah dijanjikan sebagai ”daarul ibtila” yakni  berarti ’kampung/ negeri ujian’.

Terlebih lagi bagi kita manusia ummat Muhammad SAW ynga hidup di Akhir Zaman.

Simaklah keterangan dari Nabi Muhammad Saw dalam Hadits berikut:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah memberitakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepadaku Al ‘Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki diwaktu pagi mukmin dan diwaktu sore telah kafir, dan diwaktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (AHMAD – 8493)