Pemilik Hotel Inggris Didakwa atas Penghinaan Terhadap Muslimah Berjilbab

Dua orang warga Inggris yang merupakan pemilik hotel akan menghadapi tuntutan pidana karena mengejek seorang Muslimah yang menginap di hotel mereka dengan membandingkan Muslimah yang mengenakan jilbab tersebut sebagai "perbudakan" dan tidak itu saja, kedua pemilik hotel juga menghina nabi umat Islam yaitu Nabi Muhammad SAW, pers Inggris melaporkan pada hari Selasa kemarin.
Insiden ini terjadi di bulan Maret lalu di Bounty House Hotel di Liverpool ketika tamu hotel Muslimah yang tidak disebutkan namanya itu turun untuk sarapan mengenakan jilbab, untuk pertama kalinya selama empat minggu ia menginap di hotel tersebut, dan hal itu mengejutkan Sharon (53 tahun) dan Ben (54 tahun) sang pemilik hotel.
Ben dan Sharon pasangan pemilik hotel dilaporkan telah memulai sebuah debat dengan dia tentang Islam dan kemudian menyebutl Nabi Muhammad sebagai "tukang perang" dan menggambarkan jilbab sebagai bentuk perbudakan.
Beberapa Bulan setelah insiden tersebut, muslimah yang merupakan tamu hotel - mengeluh dan melaporkan kepada polisi atas penghinaan yang ia alami di hotel itu dan akhirnya pasangan pemilik hotel didakwa atas tuduhan menggunakan "ancaman, kata-kata kasar atau penghinaan berupa kata-kata terhadap keyakinan agama seseorang," Daily Mail melaporkan.
Pasangan itu membantah tuduhan tersebut dan mengatakan tamu tersebut telah menantang kepercayaan Kristen mereka dan mengatakan mereka hanya membela diri. Pasangan pemilik hotel terancam hukuman akan menghadapi denda sebesar £ 5,000 (sekitar $ 8,000) dan akan mendapat catatan kriminal jika mereka dinyatakan bersalah.
Muslimah berjilbab telah tinggal di hotel itu ketika menerima perawatan di rumah sakit setempat menjadi pasien rawat jalan yang secara teratur harus selalu kembali ke rumah sakit dan rumah sakit merujuk tempat penginapan di hotel milik pasangan Inggris tersebut.
Pasangan Inggris ini, telah menjalankan hotel untuk enam tahun, mengatakan mereka telah kehilangan 80 persen dari pemesanan hotel mereka dan telah dipaksa untuk melepaskan hotel mereka untuk dijual dan rumah sakit harus berhenti merujuk pasien rawat jalan untuk menginap di hotel itu akibat publisitas yang buruk.
Ben dan Sharon pemilik hotel ini menerima dukungan keuangan dari Institut Kristen dan telah diperingatkan untuk tidak membicarakan kasus hingga kasusnya naik ke pengadilan pada bulan Desember nanti.
Tetapi jurubicara institut, Mike Judge, mengatakan kepada pers Inggris ia percaya perlakuan terhadap Ben dan Sharon terlalu "berat".
"Kami merasa perlakuan terhadap mereka terlalu berat dan tidak dalam kepentingan publik untuk terus maju dengan tuntutan ini. Masyarakat melihat polisi berdiri membela umat Islam yang haus darah, tapi pada saat yang sama bersikap keras pada dua orang Kristen yang memulai diskusi sambil sarapan di hotel, "katanya.(fq/aby)
Lainnya (Arsip)
- Obama Akan Jadi Tuan Rumah Perundingan Israel-Palestina
Rabu, 23/09/2009 08:03 WIB - Polisi Perancis Hancurkan Kamp Imigran Gelap Afghan Selama Idul Fitri
Rabu, 23/09/2009 07:59 WIB - Spanyol Boikot Universitas Israel
Selasa, 22/09/2009 22:13 WIB - Taliban: Tidak Karzai, Tidak Pula Abdullah Abdullah
Selasa, 22/09/2009 21:40 WIB - Wilders: Denda 1.461 dollar Untuk Perempuan Muslimah Yang Mengenakan Jilbab
Selasa, 22/09/2009 21:11 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




