Larangan Burka dan Aturan Masker di Belanda, Sebuah Ironi?

Keamanan publik adalah alasan utama yang diberikan pemerintah Belanda atas larangan tersebut, sebuah proses yang dimulai 14 tahun lalu oleh Geert Wilders, pemimpin Partai sayap kanan untuk Kebebasan. Hukuman untuk menolak melepas penutup wajah adalah denda antara 150 Euro dan 450 Euro.

Namun, menurut juru bicara Kepolisian Nasional Belanda, hanya “segelintir” orang yang didenda dalam setahun terakhir karena mengenakan pakaian itu. Emarah mengatakan, reaksi orang-orang terhadap perempuan dengan burka menjadi lebih agresif dari sebelumnya.

Saat masih legal pun orang-orang sudah bertindak agresif saat melihat orang dengan pakaian penutup wajah. Sebelum resmi dilarang, Emarah sempat mengalami kekerasan di supermarket. “Orang-orang akan memukul pergelangan kaki saya dengan keranjang belanja agar saya pindah.” Setelah itu, tingkat agresivitas orang-orang meningkat secara signifikan. “Seorang pria bahkan mencoba memukul saya dengan mobilnya,” ucapnya.

Suster Anne dan Truus Postma yang sedang menikmati teh di Lambertus de Zijlplein di barat Amsterdam, menyampaikan bahwa alun-alun tidak banyak mengalami perubahan sejak adanya larangan menggunakan pakaian penutup wajah. “Saya lebih suka melihat wajah mereka, tetapi hampir tidak ada wanita dengan penutup wajah seperti itu,” katanya.

Sementara itu, Leila yang duduk di bangku kayu di sudut lain alun-alun mengatakan senang dengan larangan itu. “Itu terlalu berlebihan,” jelasnya. “Anda tinggal di negara Eropa, mengapa Anda harus menutupi diri Anda seperti itu? Syal seperti yang saya pakai sudah cukup bagus.”

Giulio Bonotti, seorang pekerja Somalia-Italia untuk dewan kota, juga senang dengan undang-undang tersebut. “Saya sama sekali tidak suka kerudung itu, itu penyiksaan,” ujarnya. “Sepertinya wanita itu tidak berharga sama sekali, mereka berhak melarang burka.”