Dr. Tony Rosyid: 2019, Pertempuran Hidup dan Mati

Tidak hanya buat Prabowo, pilpres 2019 juga _ultimate fighting_ buat Jokowi. Kalah, Jokowi bisa balik ke solo. Pensiun dini. Ambil PDIP? Ada Puan Maharani, putri mahkota Megawati. Trah darah biru Soekarno, Bapak Proklamasi.

Santer kabar, Megawati mau mundur dari posisinya sebagai Ketum PDIP. Sudah sepuh, akunya. Ini alasan normatif. Boleh jadi alasan politisnya ingin menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Puan Maharani. Sebab, jika tak terkondisikan, Jokowi sangat berpeluang untuk mengambil PDIP. Jaringan kuat dan logistik memadai. Massa _die hard_ Jokowi di PDIP cukup mengakar.

Kedua capres, baik Prabowo maupun Jokowi akan mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki. Ini pertempuran mati hidup. Tak ada pertempuran berikutnya. Menang, atau kalah selamanya.

Meski _ultimate fighting,_ kompetisi harus tetap fairnes. Ini penting agar pertama, lahir pemimpin yang benar-benar dikehendaki rakyat. Bukan pemimpin hasil manipulasi dan menipu suara rakyat. Kedua, untuk memastikan bahwa demokrasi hidup dan terjaga dengan baik di negeri ini. Tidak saja ini akan dilihat oleh dunia, tapi yang terpenting dan paling utama bahwa ini akan jadi warisan moral bagi generasi dan anak bangsa.