Merdekanya Udahan…

Eramuslim.com – Kemarin, bangsa Indonesia merayakan proklamasi kemerdekaan negeri ini yang telah berusia 72 tahun, 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017. Yang dirayakan sejatinya adalah seremonial proklamasi kemerdekaannya, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sebab itu, di mana-mana ada upacara bendera, nyanyian lagu-lagu nasional. hingga acara balap karung, makan kerupuk, dan gebuk bantal plus panjat pinang. Kemarin, bangsa ini larut dalam seremonial peringatan proklamasi kemerdekaan. Pagi Sang Saka Dwi Warna dikibarkan di halaman depan Istana Negara, dan sorenya diturunkan dalam balutan upacara yang khusus dan rutin.

Hari ini, merdekanya sudahan….

Hari ini, bangsa Indonesia kembali kepada rutinitas. Kita seperti baru bangun dari tidur, baru sadar dari mimpi indah kemerdekaan, atau baru bangkit dari pingsan. Ternyata hari ini ribuan petani garam di Madura, Cirebon, dan banyak daerah pesisir lainnya tengah teriak minta tolong gara-gara panen garam tapi tidak bisa dijual gegara para makelar importir garam lewat kongsinya di lingkungan pembuat kebijakan seenaknya mengimpor garam dalam jumlah yang tanpa batas!

Hari ini kita baru sadar, cangkul yang dipakai jutaan petani ternyata juga masih impor dari Cina. Apakah bangsa kita tidak bisa membuat cangkul? Tidak juga. Bangsa ini sudah mampu membuat kapal selam malah. Persoalannya bukan bisa atau tidaknya bangsa ini membuat cangkul, tapi lebih terletak pada para makelar import yang sangat diuntungkan jika bisa memasukkan cangkul dari Cina. Komisinya gede. Dan para pejabat yang mengizinkan hal itu pun bisa dapat komisi yang lumayan. Soal jerit perih para pembuat cangkul dalam negeri mereka tak dengar karena hidup di perkotaan lebih bising.

Hari ini kita baru sadar jika Utang, diam-diam atau pun terang-terangan, semakin mencekik leher bayi-bayi kita. Kemarin, orang-orang yang punya kekuasaan di negeri ini tanpa malu berpidato tentang kemerdekaan, kemandirian, dan kedaulatan. Tapi jika leher sudah dicekik, sudah diikat tali laso, kemerdekaan, kemandirian, dan kedaulatan macam apa yang bisa dilakukan? Kita ibarat kuda penarik delman yang kedua matanya ditutup dan leher serta seluruh tubuh kita diikat dan seluruh gerak kita dikendalikan oleh abang delman. Kita kudanya, dan abang delman sang tuan pemberi utang. Atau kalau mau kasar, kita ini sekarang ibarat anjing yang lehernya diikat dan seluruh gerak kita dikendalikan oleh majikannya.

Hari ini kita terbengong-bengong dan mungkin banyak yang kagum dengan berbagai proyek infrastruktur yang megah di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Tapi tahukah kita jika semua itu sesungguhnya upaya untuk memperlancar usaha para pemodal, para importir, untuk bisa cepat mendistribusikan barangnya dan keuntungannya pun bisa akan lebih banyak. Jalur kereta cepat Jakarta-Bandung yang sesungguhnya tidak perlu pun memang sengaja dibuat sebagai salah satu tools pemikat berbagai proyek perumahan dan infastruktur di sepanjang jalur Jakarta-Bandung yang kita semua tahu siapa yang ada di belakangnya.

Kita sibuk dengan seremonial upacara kemerdekaan, tapi saudara-saudara kita yang tinggal di Solo, Jawa Tengah, saja, untuk berzikir dan berdoa bersama dilarang.

Hari kemerdekaan adalah kemarin. Dan hari ini, kemerdekaannya sudahan. Hari ini dan besok-besok, bendera merah putih pun yang masih banyak di mana-mana, akan menghilang dari gang-gang kampung, dari mana-mana.

Merdekanya sudahan…. Mari kita bangun dari tidur dan mimpi indah, untuk mulai bekerja dalam dunia nyata. Mari kita berjuang agar kemerdekaan tidak lagi cuma satu hari, tapi selama-lamanya bagi bangsa dan negeri tercinta ini. Kata BunG Karno: “Kemerdekaan itu harus direbut dan diperjuangkan, bukan diminta!” Tabik! []

https://m.eramuslim.com/resensi-buku/konspirasi-penggelapan-sejarah-indonesia-eramuslim-digest-edisi-10.htm