Yang Mengharap Cahaya-Nya

Panas terik. Bahkan sejak pagi sengatan matahari begitu menyilaukan. Setelah beberapa hari sebelumnya cuaca di kota Nagoya mendung dan hujan, Sinar mentari kembali menyeruak langit. Seakan memberi kesempatan bagi yang ingin melangkahkan kakinya menuju masjid.

Setelah sholat Subuh, bukannya terus beraktifitas, saya dan anak-anak tidur kembali. Rasa lelah karena hari Jumat pergi ke rumah teman yang rumahnya agak jauh, masih belum pulih. Bangun jam delapan pagi, setengah jam kemudian barulah saya mulai memasak untuk bekal makan siang. Tak dinyana, jam sepuluh barulah persiapan selesai. Jadwal berangkat ke masjid yang biasanya naik kereta bawah tanah yang jam 10:35, menjadi terlambat.

Begitu keluar dari pintu tiket, telepon genggam saya berdering. "Mbak, sekarang ada di mana?" tanya teman saya.
"Ini, lagi menuju pintu keluar stasiun," jawab saya dengan nada malu yang ditutup-tutupi.
"Mbak ada di mana?" tanya saya asal, walaupun saya menduga dia sudah ada di Masjid.
"Ada di Masjid, mbak. Belum bisa mulai. Lha… lurahnya belum datang…" katanya bercanda.

Saya mengajak anak-anak saya lebih bergegas. Rasa tak enak hati karena datang terlambat begitu menyelimuti diri. Begitu tiba di pintu depan Masjid, saya berpapasan dengan seorang teman saya. Rupanya dia ada keperluan keluar sebentar.

Sambil membentangkan pintu tetap terbuka, saya menyuruh anak-anak saya masuk, sambil berkata,"Baca bismillah, masuk kaki kanan dulu…"
Teman saya itu berkata, "Oh, kaki kanan dulu ya, kalau masuk Masjid?"
"Iya, berdoa minta Allah membuka pintu-pintu rahmat-NYA untuk kita, lalu masuk kaki kanan dulu, nanti kalau keluar kaki kiri dulu."
Sambil tetap memegang pintu saya menjawab pertanyaannya. "Terima kasih mbak, jadi tahu, nih…" dia berlalu dengan senyum.

Ruangan untuk muslimah ada di lantai dua. Begitu menguak pintu dan mengucap salam, beberapa teman dan anak-anaknya sudah ada di dalam.

Hari ini anak-anak yang datang ke Masjid lebih banyak daripada hari Sabtu minggu lalu. Rasa senang bisa berkumpul dan belajar Al-Quran bersama bukan saya saja yang merasakannya, saya yakin anak-anak saya pun merasakannya.

Ini akan membuat mereka lebih rajin dan semangat kalau diajak pergi ke Masjid. Semoga keadaan demikian terus berlanjut, harap saya dalam hati.

***

Berbeda dengan di Indonesia yang begitu mudahnya menemui masjid, musholla dan langgar-langgar. Bahkan di perumahan-perumahan, musholla bisa ditemui di tiap RT atau RW. Di Nagoya, tempat tinggal saya sekarang hanya ada satu masjid. Begitupun kami bersyukur, karena tidak semua kota di Jepang ada masjid.

Berawal dari keinginan yang sederhana, ingin agar anak-anak dekat dan mencintai masjid. Kegiatan mengaji untuk anak-anak di masjid tiap hari Sabtu itu sejak beberapa tahun yang lalu rutin diadakan.
Selain itu adanya kerinduan akan suara adzan yang dikumandangkan sang muadzin, kerinduan akan sosok-sosok yang berduyun-duyun mendatangi masjid, membuat saya bersemangat mengajak anak-anak pergi ke masjid.

Yang lebih menggugah semangat adalah tidak sedikit ibu-ibu yang dengan rela dan ikhlas membawa anak-anaknya ke masjid. Padahal tempat tinggal mereka jauh dari masjid yang letaknya ada di dalam kota Nagoya. Bahkan ada yang datang dari luar Nagoya.

Ada pula ibu-ibu yang membawa anaknya yang masih kecil-kecil dan belum bisa berbicara, agar anaknya bisa meniru kebiasaan-kebiasaan baik yang dilihatnya, seperti membaca doa sebelum belajar, doa sebelum dan sesudah makan, gerakan-gerakan sholat, ataupun akhlak perbuatan dan akhlak lisan lainnya.

Panas matahari yang begitu terik tidak mengurangi semangat, tidak melemahkan niat apatah lagi menyurutkan langkah mereka menuju masjid. Sungguh hanya niat yang kuat untuk mendapat rahmat dan cahaya-NYAlah, mereka rajin datang ke masjid. Semoga setiap langkah kita ke masjid akan menjadi bekas (atsar) kebaikan di sisi Allah. Allahumma amiin.

***

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyatakan, orang-orang yang selalu terpaut dengan masjid, selain memperoleh naungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada hari kiamat, juga mendapatkan pahala pada setiap langkahnya.

Ketika sekelompok orang dari Bani Salamah ingin mendirikan tenda di halaman masjid, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyarankan, ”Wahai Bani Salamah, rumah-rumah kalian yang jauh dari masjid lebih utama. Karena, setiap langkah kalian ke masjid akan menjadi bekas (atsar) kebaikan di sisi Allah.” (HR Muslim dari Jabir bin Abdullah).

Rasulullah bersabda, "Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat." (HR Abu Dawud & Trimidzi).

"Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya."
Wallahu’alam bisshowab

Nagoya, Juli 2006 [email protected]