Untold History of Pangeran Diponegoro 35

Untold History of Pangeran Diponegoro 35

“Sebentar lagi Kanjeng Pangeran Diponegoro akan menemui Kanjeng Kiai..”

Belum kering bibir Abdullah mengucapkan kalimat itu, dari arah belakang terdengar derap kaki kuda yang kian lama kian jelas. Pangeran Diponegoro, disertai Mangkubumi, Ki Singalodra, dan Ustadz Taftayani terlihat memacu kudanya ikut menyambut Kiai Modjo. Dari atas kudanya, mereka semua bersalaman dan berpelukan. Kedua pasukan besar itu pun bergabung menjadi satu. Pangeran Diponegoro mengajak Kiai Modjo dan Kiai Ghazali ke bagian depan. Mereka kemudian segera memacu kudanya menuju pelataran yang terletak di bagian bawah Gua Selarong.

Ki Guntur Wisesa yang berada di depan barisan memanggil sejumlah kepala regu. Kepada mereka semua, Senopati yang bertanggungjawab atas wilayah Selarong ini memerintahkan agar mereka semua mengatur pasukannya masing-masing, untuk mengisi pos-pos pertahanan yang sudah dipersiapkan.

“Tempati posisi kalian semua. Isi posnya masing-masing. Bersiagalah, jangan lengah!” teriaknya.

Para kepala regu segera membubarkan diri kembali ke regunya masing-masing.

Setibanya di pelataran depan anak tangga menuju ke Gua Selarong, Pangeran Diponegoro dan lainnya turun dari kudanya. Diponegoro bersama para sesepuh lainnya menaiki tangga yang dibuat dari susunan bebatuan menuju ke gua yang berada di bagian atas. Isteri dari Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih beserta puluhan Laskar Puteri, menunggu di bawah membiarkan kaum laki-laki naik ke atas terlebih dahulu. Setelah para sesepuh naik semua, barulah mereka menaiki tangga menuju gua yang satunya lagi.

Gua Selarong seakan memang diciptakan berpasangan. Satu di sebelah barat dan satu lagi di timur. Yang di sebelah barat di sebut Gua Kakung karena dipakai sebagai pusat komando pasukan laki-laki, sedangkan yang di timur disebut Gua Puteri yang akan dihuni oleh Raden Ayu Retnaningsih beserta pasukannya.

Pagi yang sama jauh di utara Selarong, tepatnya di Semarang,Residen Semarang dan Kolonel Von Jett tengah melakukan persiapan untuk menginspeksi duaratusan pasukan artileri dan infanteri di bawah pimpinan Kapten Kumsius yang akan segera berangkat ke Yogyakarta siang atau sore harinya. Menurut rencana, pasukan ini akan transit terlebih dulu ke Magelang untuk mengambil uang titipan dari residennya sesuai dengan permintaan Residen Yogyakarta, A.H. Smissaert.

Kabar tentang pemberontakan yang meletus di Yogyakarta sendiri sangat mengejutkan Semarang. Warga Semarang terbelah menjadi dua. Ada yang mendukungnya namun lebih banyak yang cemas. Pemerintah jajahan sendiri menyebarkan fitnah jika yang memberontak di Yogyakarta adalah para kriminal dan penjahat yang kabur setelah menjebol berbagai penjara. Mereka ditampung oleh Pangeran Diponegoro dan dijadikan anggota pasukannya. Kebanyakan warga Semarang, di antaranya banyak warga Cina yang berprofesi sebagai pedagang, dilanda ketakutan yang teramat sangat. Mereka takut jika pemberontakan itu akan menjalar ke Semarang. Mereka segera berkumpul dan berencana membentuk satuan-satuan sipil bersenjata-mirip pamswakarsa-yang akan mempertahankan kampungnya dari segala ancaman yang mungkin saja timbul.

Karesidenan Semarang sendiri, sama seperti karesidenan-karesidenan lainnya, berusaha turut memadamkan pemberontakan Diponegoro dengan mengirimkan pasukannya ke Yogyakarta. Duaratusan pasukan infanteri dan kavaleri yang dipimpin Kapten Kumsius sedang bersiap berangkat. Komandan pasukan Belanda di Semarang, Kolonel Von Jett, malah berinisiatif datang langsung ke Yogyakarta untuk bergabung dengan para pembuat kebijakan secara langsung menghadapi pemberontakan itu. []

Bab 33

SALAH SEORANG PRAJURIT JAGA MELAPOR pada Ki Guntur Wisesa yang baru saja hendak mendaki susunan tangga batu menuju Gua Kakung tempat di mana Diponegoro akan melangsungkan musyawarah.

“Ada apa, Kisanak?” selidik senopati itu.

“Maaf Ki, ada kabar penting yang hendak disampaikan anggota pasukan telik sandi kita dari Plered kepada Kanjeng Pangeran…”

“Kanjeng Pangeran hendak memimpin pertemuan terbatas. Sampaikan saja padaku, nanti aku teruskan pada Kanjeng Pangeran…”

“Inggih, Ki….”

“Apakah itu orangnya?” Ki Guntur Wisesa menunjuk seorang lelaki muda berpakaian wulung hitam-hitam yang tengah berdiri sekira tujuh tombak di belakang mereka. Prajurit jaga itu mengangguk. Dia kemudian memanggil lelaki itu dan mempersilakan untuk menyampaikan informasi yang dimiliki kepada Ki Guntur Wisesa.

“Apa yang hendak Kisanak sampaikan?”

Dengan perlahan, prajurit mata-mata itu menyampaikan laporan jika Sentot Prawirodirdjo dengan limaratusan pasukannya sudah menyatakan akan bergabung di Selarong. “Insya Allah, dalam waktu dekat…”

Ki Guntur Wisesa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi dia sepertinya belum yakin benar dengan kabar yang dibawa prajurit itu. “Kisanak dari Plered?”

Prajurit itu mengangguk, “Inggih, Ki…”

“Siapa nama pemimpinmu?” selidik Ki Guntur. Kalimat ini sesungguhnya adalah kata sandi yang harus dijawab dengan sesuai oleh orang yang memang bagian dari pasukan telik sandi yang ditempatkan di Plered. Ada dua kombinasi pertanyaan dan jawaban.

“Semarang Magelang…,” jawabnya pelan.

“Apa?”

“Magelang Yogyakarta…”

Ki Guntur tersenyum. Kombinasi jawaban prajurit itu sesuai. Baru dia yakin jika informasi yang disampaikan prajurit itu benar adanya. Sambil menepuk-nepuk punggung prajurit tersebut, Ki Guntur mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, Kisanak. Sekarang saya akan ke atas, melaporkan kabar ini kepada Kanjeng Pangeran.”

Prajurit itu segera minta diri dan menghilang dalam kesibukan para laskar dan kepala regu yang tengah mempersiapkan segala sesuatunya.

Ki Guntur sendiri bergegas menaiki susunan tangga batu menuju Gua Kakung dimana Pangeran Diponegoro akan mengadakan tukar pikiran dengan Kiai Modjo, Ustadz Taftayani, Pangeran Bei, dan Pangeran Mangkubumi. Setibanya di mulut gua, semuanya sudah duduk melingkar.

Setelah memberi salam, Ki Guntur menyampaikan maaf karena datang terlambat. “Ndak apa-apa, Ki Guntur. Kita baru saja akan mulai,” ujar Pangeran Diponegoro sembari mempersilakan Senopati Selarong itu duduk di sampingnya.

Tukar pikiran dibuka dengan pembacaan beberapa ayat al-Qur’an yang dilakukan oleh Kiai Modjo. Setelah itu, Pangeran Diponegoro mempersilahkan masing-masing untuk bicara.

Ki Guntur Wisesa mengangkat tangan terlebih dahulu, “Kanjeng Pangeran, Kiai, dan Ustadz, maafkan saya bila lancang berbicara terlebih dahulu. Saya hanya ingin menyampaikan kabar gembira dari pasukan telik sandi kita yang ada di Plered. Dia mengabarkan jika Sentot Prawirodirdjo dan pasukannya insya Allah akan bergabung disini. Itu saja….” [](Bersambung)