Lebih Jujur soal Kartoesoewirjo, Korban Pendzaliman Sejarah

Kartoesoewirjo adalah anak seorang mantri candu yang mempunyai kedudukan tinggi dikalangan masyarakat pribumi. Tahun 1901 belanda memberlakukan politik etis untuk kalangan pribumi dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang layak.

Berkat kedudukannya yang terhormat di mata masyarakat, Kartoesoewirjo melanjutkan pendidikan di Sekolah Kedokteran Belanda di Surabaya. Tetapi dikemudian hari Kartoesoewirjo dikeluarkan dari sekolah tersebut karena dituduh komunis.

Kartoesoewirjo bekerja di harian Fadjar Asia sebagai pimpinan redaksi, beliau sering menulis tulisan tentang penentangan terhadap penjajahan belanda termasuk terhadap raja dan bangsawan jawa yang bekerjasama dengan pihak kolonial.

Karir politiknya teruji ketika beliau bergabung dengan Jong Java, namun keberpihakannya kepada ideologi Islam membuatnya bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB). Berkat bergabung dengan organisasi inilah beliau menjadi salah satu pelaku sejarah monumental yaitu Sumpah Pemuda.

Karir politik beliau semakin melejit ketika menjadi pengurus Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ketika banyak organisasi-organisasi di Indonesia bekerjasama dengan pihak kolonial. Di PSII, Kartoesowirjo dipercaya untuk menyusun brosur sikap hijrah yang akan menjadi haluan politik PSII. Oleh karena itu beliau disebut juga sebagai konseptor politik “Hijrah” bagi PSII dengan tidak mau berkompromi dengan penjajah.

Haluan politik ini tetap beliau pegang meskipun dikemudian hari banyak anggota PSII yang tidak setuju. Bahkan karena keteguhan haluan politik hijrahnya membawa konsekuensi beliau bergerilya di hutan-hutan menghindari kejaran TNI.

Sejarah yang perlu diluruskan

Pepatah mengatakan bahwa “sejarah ditulis oleh mereka yang menang”. Mencermati sejarah gerakan beliau yaitu Darul Islam dari sudut pandang kurikulum sejarah kita akan menemukan bahwa gerakan beliau adalah sebuah pemberontakan yang merongrong kesatuan NKR dan mendirikan Negara dalam Negara.